Showing posts sorted by relevance for query pengertian-kegunaan-manfaat-dan-nilai-barang. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query pengertian-kegunaan-manfaat-dan-nilai-barang. Sort by date Show all posts

Thursday, October 17, 2019

Pintar Pelajaran Pengertian Kegunaan Manfaat Dan Nilai Barang, Macam-Macam, Contoh, Ekonomi

Pengertian Kegunaan Manfaat dan Nilai Barang, Macam-macam, Contoh, Ekonomi - Konsumsi yaitu acara mengunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan. Dengan kata lain, suatu barang akan dikonsumsi oleh insan jikalau barang tersebut mempunyai kegunaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau memuaskan keinginan.

1. Pengertian Kegunaan dan Macam-Macam Kegunaan Suatu Barang


Dalam kehidupan sehari-hari insan mengonsumsi majemuk benda/barang dan jasa. Benda yang dikonsumsi insan di antaranya beras, kedelai, meja, kursi, payung, mobil, dan lain-lain. Benda-benda tersebut dikonsumsi dan diharapkan insan sebab benda-benda tersebut mempunyai kegunaan (utilitas). Beras diharapkan insan sebab beras sanggup ditanak menjadi nasi untuk dimakan. Kedelai diharapkan insan sebab sanggup diubah menjadi tempe atau menjadi susu untuk dikonsumsi manusia. Jadi, yang dimaksud dengan kegunaan yaitu kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan manusia. [1]

Ada beberapa bentuk kegunaan dari suatu barang yang Anda gunakan ketika ini, di antaranya:

1.1. Kegunaan Bentuk (Form Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau diubah dari bentuk asalnya. Misalnya kayu menjadi perabotan rumah tangga atau benang menjadi kain.

Contoh lain : [1]
  1. Kayu diubah menjadi kursi.
  2. Kain diubah menjadi baju.
  3. Kulit sapi diubah menjadi sepatu.

1.2. Kegunaan Tempat (Place Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau berada pada kawasan yang tepat. Misalnya pakaian tebal digunakan di kawasan yang berhawa dingin.

Contoh lain : [1]
  1. Batu di gunung diangkut ke kota sebagai materi bangunan.
  2. Pasir di desa diangkut ke kota sebagai materi bangunan.
  3. Sayur di kebun diangkut ke pasar untuk dijual.

1.3. Kegunaan Kepemilikan (Ownership Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau telah dimiliki atau disewa oleh orang yang membutuhkan. Misalnya, buku pelajaran di toko buku tidak mempunyai nilai guna, tetapi jikalau dimiliki oleh pelajar akan mempunyai kegunaan untuk meningkatkan kepandaian dan pengetahuan. Komputer yang masih berada di toko elektronik tidak mempunyai nilai guna sebelum komputer tersebut dibeli dan dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan insan menyerupai mengetik naskah atau mendesain gambar.

Contoh lain : [1]
  1. Ikan di bahari menjadi mempunyai kegunaan sehabis ditangkap (dimiliki).
  2. Buku di toko menjadi mempunyai kegunaan sehabis dibeli (dimiliki)

1.4. Kegunaan Waktu (Time Utility)


Suatu barang akan bermanfaat jikalau digunakan pada waktu yang tepat. Misalnya, jas hujan digunakan pada ketika hujan.

Contoh lain : [1]
  1. Payung  menjadi mempunyai kegunaan pada ketika turun hujan.
  2. Obat menjadi mempunyai kegunaan pada ketika jatuh sakit.
  3. Baju hangat menjadi mempunyai kegunaan pada ketika ekspresi dominan dingin.

5) Kegunaan Pelayanan (Service Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau sanggup memperlihatkan jasa. Misalnya televisi atau radio akan mempunyai kegunaan jikalau ada siarannya dan angkutan umum menjadi mempunyai kegunaan bila dijalankan.

6) Kegunaan Dasar (Elementary Utility)


Suatu barang akan mengalami peningkatan sehabis diolah dari materi dasar atau materi baku menjadi barang jadi. Misalnya, kapas sebagai materi dasar pembuatan benang dan benang sebagai materi dasar kain.

Contoh lain : [1]
  1. Tebu sebagai materi pembuat gula.
  2. Kedelai sebagai materi pembuat tahu dan tempe.

2. Pengertian Nilai dan Macam-Macam Nilai Barang


Setelah mempelajari kegunaan (utilitas), berikut kita akan membahas apa yang dimaksud dengan nilai. Bila kegunaan mempunyai arti kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan insan maka yang dimaksud dengan nilai yaitu arti yang diberikan insan terhadap benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhan insan atau sanggup ditukarkan dengan benda lain. Dari pengertian tersebut, diketahui ada dua macam nilai, yaitu nilai pakai dan nilai tukar.

Pemahaman terhadap nilai pakai dan nilai tukar sudah dikenal semenjak zaman Aristoteles, spesialis filsafat Yunani. Aristoteles memberi contoh, bahwa sepasang sepatu mempunyai nilai pakai dan nilai tukar. Sepatu mempunyai nilai pakai, sebab sepatu sanggup digunakan untuk melindungi kaki. Sepatu pun mempunyai nilai tukar sebab sepatu sanggup ditukar dengan sejumlah gandum.

Jadi, yang dimaksud dengan nilai pakai yaitu nilai yang diberikan kepada suatu benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Adapun yang dimaksud dengan nilai tukar yaitu nilai yang diberikan kepada suatu benda sebab benda tersebut sanggup ditukar dengan benda lain. [1]

Nilai suatu barang dan jasa sanggup dibedakan menjadi dua, yaitu:

2.1. Nilai Pakai


a) Nilai Pakai Objektif

Nilai pakai objektif, yaitu kemampuan yang dimiliki benda sebab benda tersebut sanggup memenuhi kebutuhan insan secara umum. (Catatan: nilai pakai objektif = kegunaan/utilitas). [1] Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai objektif jikalau barang dan jasa tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan insan pada umumnya. Contoh nilai pakai objektif yaitu masakan dan minuman mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Buku pelajaran bermutu mempunyai kemampuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.

Contoh lain : [1]
  1. Payung sanggup digunakan untuk melindungi tubuh dari hujan.
  2. Lemari sanggup digunakan untuk menyimpan baju.
b) Nilai Pakai Subjektif

Nilai pakai subjektif yaitu arti yang diberikan kepada benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhannya secara khusus. [1] Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai subjektif apabila seseorang memperlihatkan evaluasi terhadap barang yang digunakannya. Hal ini mengakibatkan nilai pakai subjektif setiap orang berbeda-beda, tergantung kemampuan barang tersebut memperlihatkan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan. Misalnya, bagi seorang petani, cangkul sangat dibutuhkan dalam acara pertanian sehingga mempunyai nilai pakai yang tinggi. Bagaimana dengan seorang dokter? Apakah cangkul juga termasuk barang yang sangat dibutuhkannya? Bagi seorang dokter, cangkul tidak dibutuhkan, sehingga mempunyai nilai pakai yang rendah.

Contoh lain : [1]
  1. Raket mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi pemain bulutangkis daripada bagi petani.
  2. Jala mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi nelayan daripada bagi dokter.

2.2. Nilai Tukar


a) Nilai Tukar Objektif

Nilai tukar objektif yaitu kemampuan suatu barang untuk sanggup ditukarkan dengan barang jenis lain. Misalnya, jasa pemetikan kelapa ditukar dengan imbalan berupa sepertiga kepingan kelapa hasil petikannya. Artinya, jasa pemetik kelapa mempunyai nilai tukar objektif.

Contoh lain : [1]
  1. Beras sanggup ditukar dengan sejumlah jagung.
  2. Uang sanggup ditukar dengan gula atau dengan barang lain.
b) Nilai Tukar Subjektif

Nilai tukar subjektif yaitu nilai yang diberikan seseorang terhadap suatu barang dan jasa, sebab bisa ditukar dengan barang dan jasa lainnya untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya berdasarkan penarik becak, jasa mengantar penumpang dari stasiun menuju pasar Rp 5.000,00, tetapi berdasarkan calon penumpang hanya senilai Rp 3.000,00. Dengan demikian, nilai tukar atas jasa mengayuh becak yaitu nilai tukar subjektif, berdasarkan evaluasi masing-masing kebutuhan.

Contoh lain : [1]
  1. Menurut pemain badminton raket sanggup ditukarkan dengan Rp400.000,- Tapi berdasarkan petani, raket hanya sanggup ditukar dengan uang Rp20.000,-.
  2. Menurut kolektor barang antik, sebuah meja kuno Belanda sanggup ditukar dengan uang Rp10.000.000,-, tapi berdasarkan seorang nelayan meja tersebut hanya sanggup ditukar dengan uang Rp100.000,-.
Perlu kau ketahui, bahwa dalam teori nilai objektif lebih menitikberatkan pada kaum produsen, sedangkan konsumen lebih cenderung menilai barang dari segi subjeknya, atau siapa yang menilai. Oleh sebab itu, teori sikap konsumen merupakan teori nilai subjektif. [2]

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dibahas mengenai teori nilai objektif beserta tokoh-tokohnya.

a. Teori Nilai Pasar

Menurut Humme dan Locke, nilai suatu barang sangat tergantung pada usul dan penawaran barang di pasar.

b. Teori Nilai Biaya Produksi

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith. Menurutnya, nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen untuk menciptakan barang tersebut. Menurutnya, semakin tinggi nilai pakai suatu barang, nilai tukarnya pun juga akan semakin tinggi.

c. Teori Nilai Tenaga Kerja

Menurut David Ricardo, nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah biaya tenaga kerja yang diharapkan untuk menghasilkan barang tersebut.

d. Teori Nilai Biaya Reproduksi

Menurut Carey, nilai suatu barang ditentukan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang itu kembali (biaya reproduksi). Oleh sebab untuk memilih nilai suatu barang tidak berpangkal pada biaya produksi yang pertama kali, tetapi pada biaya produksi yang dikeluarkan sekarang.

e. Teori Nilai Kerja Rata-Rata atau Teori Nilai Lebih

Menurut Karl Marx, tenaga kerja mempunyai nilai tukar dan nilai pakai bagi pengusaha. Dalam hal ini pengusaha harus membayar nilai tukarnya untuk mendapat nilai pakainya. Kelebihan nilai pakai atas nilai tukar inilah yang disebut nilai lebih.

Adapun tokoh-tokoh yang mengemukakan teori nilai subjektif di antaranya sebagai berikut.

a. Herman Henrich Gossen (1854)

Dalam teori nilai subjektif, Gossen mempelajari cara pemuasan kebutuhan yang dikemukakan dalam Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.

Hukum Gossen I, yaitu aturan kepuasan yang semakin berkurang (law of diminishing utility), yang berbunyi “Jika suatu kebutuhan dipenuhi terus-menerus, maka kenikmatannya makin usang makin berkurang, sehingga kesudahannya dicapai rasa kepuasan”.

Hukum Gossen II, yaitu aturan perata nilai batas atau law of marginal utility, berbunyi “Manusia akan berusaha untuk memenuhi banyak sekali macam kebutuhannya hingga pada tingkat intensitas yang sama”.

b. Karl Menger

Dalam Teori Nilai Austria, Karl Menger melanjutkan penelitiannya berdasarkan Hukum Gossen dengan menciptakan daftar kebutuhan konsumen, sehingga konsumen membagi pendapatannya untuk memenuhi banyak sekali kebutuhan hingga mencapai tingkat intensitas yang harmonis.

c. Von Bohm Bawerk

Teori Von Bohm Bawerk disebut Teori Nilai Batas. Nilai batas yaitu nilai yang diberikan kepada barang yang dimilikinya paling tamat atau nilai pemuasan yang paling akhir.

Referensi :

Nurcahyaningtyas. 2009. Ekonomi : Untuk Kelas X SMA/MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 322.

Referensi Lainnya :

[1] Sa’dyah, C. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 434.

[2] Ismawanto. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 210.

Pintar Pelajaran Pengertian Kegunaan Manfaat Dan Nilai Barang, Macam-Macam, Contoh, Ekonomi

Pengertian Kegunaan Manfaat dan Nilai Barang, Macam-macam, Contoh, Ekonomi - Konsumsi yaitu acara mengunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan. Dengan kata lain, suatu barang akan dikonsumsi oleh insan jikalau barang tersebut mempunyai kegunaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau memuaskan keinginan.

1. Pengertian Kegunaan dan Macam-Macam Kegunaan Suatu Barang


Dalam kehidupan sehari-hari insan mengonsumsi majemuk benda/barang dan jasa. Benda yang dikonsumsi insan di antaranya beras, kedelai, meja, kursi, payung, mobil, dan lain-lain. Benda-benda tersebut dikonsumsi dan diharapkan insan sebab benda-benda tersebut mempunyai kegunaan (utilitas). Beras diharapkan insan sebab beras sanggup ditanak menjadi nasi untuk dimakan. Kedelai diharapkan insan sebab sanggup diubah menjadi tempe atau menjadi susu untuk dikonsumsi manusia. Jadi, yang dimaksud dengan kegunaan yaitu kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan manusia. [1]

Ada beberapa bentuk kegunaan dari suatu barang yang Anda gunakan ketika ini, di antaranya:

1.1. Kegunaan Bentuk (Form Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau diubah dari bentuk asalnya. Misalnya kayu menjadi perabotan rumah tangga atau benang menjadi kain.

Contoh lain : [1]
  1. Kayu diubah menjadi kursi.
  2. Kain diubah menjadi baju.
  3. Kulit sapi diubah menjadi sepatu.

1.2. Kegunaan Tempat (Place Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau berada pada kawasan yang tepat. Misalnya pakaian tebal digunakan di kawasan yang berhawa dingin.

Contoh lain : [1]
  1. Batu di gunung diangkut ke kota sebagai materi bangunan.
  2. Pasir di desa diangkut ke kota sebagai materi bangunan.
  3. Sayur di kebun diangkut ke pasar untuk dijual.

1.3. Kegunaan Kepemilikan (Ownership Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau telah dimiliki atau disewa oleh orang yang membutuhkan. Misalnya, buku pelajaran di toko buku tidak mempunyai nilai guna, tetapi jikalau dimiliki oleh pelajar akan mempunyai kegunaan untuk meningkatkan kepandaian dan pengetahuan. Komputer yang masih berada di toko elektronik tidak mempunyai nilai guna sebelum komputer tersebut dibeli dan dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan insan menyerupai mengetik naskah atau mendesain gambar.

Contoh lain : [1]
  1. Ikan di bahari menjadi mempunyai kegunaan sehabis ditangkap (dimiliki).
  2. Buku di toko menjadi mempunyai kegunaan sehabis dibeli (dimiliki)

1.4. Kegunaan Waktu (Time Utility)


Suatu barang akan bermanfaat jikalau digunakan pada waktu yang tepat. Misalnya, jas hujan digunakan pada ketika hujan.

Contoh lain : [1]
  1. Payung  menjadi mempunyai kegunaan pada ketika turun hujan.
  2. Obat menjadi mempunyai kegunaan pada ketika jatuh sakit.
  3. Baju hangat menjadi mempunyai kegunaan pada ketika ekspresi dominan dingin.

5) Kegunaan Pelayanan (Service Utility)


Suatu barang akan lebih mempunyai kegunaan jikalau sanggup memperlihatkan jasa. Misalnya televisi atau radio akan mempunyai kegunaan jikalau ada siarannya dan angkutan umum menjadi mempunyai kegunaan bila dijalankan.

6) Kegunaan Dasar (Elementary Utility)


Suatu barang akan mengalami peningkatan sehabis diolah dari materi dasar atau materi baku menjadi barang jadi. Misalnya, kapas sebagai materi dasar pembuatan benang dan benang sebagai materi dasar kain.

Contoh lain : [1]
  1. Tebu sebagai materi pembuat gula.
  2. Kedelai sebagai materi pembuat tahu dan tempe.

2. Pengertian Nilai dan Macam-Macam Nilai Barang


Setelah mempelajari kegunaan (utilitas), berikut kita akan membahas apa yang dimaksud dengan nilai. Bila kegunaan mempunyai arti kemampuan benda untuk memenuhi kebutuhan insan maka yang dimaksud dengan nilai yaitu arti yang diberikan insan terhadap benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhan insan atau sanggup ditukarkan dengan benda lain. Dari pengertian tersebut, diketahui ada dua macam nilai, yaitu nilai pakai dan nilai tukar.

Pemahaman terhadap nilai pakai dan nilai tukar sudah dikenal semenjak zaman Aristoteles, spesialis filsafat Yunani. Aristoteles memberi contoh, bahwa sepasang sepatu mempunyai nilai pakai dan nilai tukar. Sepatu mempunyai nilai pakai, sebab sepatu sanggup digunakan untuk melindungi kaki. Sepatu pun mempunyai nilai tukar sebab sepatu sanggup ditukar dengan sejumlah gandum.

Jadi, yang dimaksud dengan nilai pakai yaitu nilai yang diberikan kepada suatu benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Adapun yang dimaksud dengan nilai tukar yaitu nilai yang diberikan kepada suatu benda sebab benda tersebut sanggup ditukar dengan benda lain. [1]

Nilai suatu barang dan jasa sanggup dibedakan menjadi dua, yaitu:

2.1. Nilai Pakai


a) Nilai Pakai Objektif

Nilai pakai objektif, yaitu kemampuan yang dimiliki benda sebab benda tersebut sanggup memenuhi kebutuhan insan secara umum. (Catatan: nilai pakai objektif = kegunaan/utilitas). [1] Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai objektif jikalau barang dan jasa tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan insan pada umumnya. Contoh nilai pakai objektif yaitu masakan dan minuman mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Buku pelajaran bermutu mempunyai kemampuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.

Contoh lain : [1]
  1. Payung sanggup digunakan untuk melindungi tubuh dari hujan.
  2. Lemari sanggup digunakan untuk menyimpan baju.
b) Nilai Pakai Subjektif

Nilai pakai subjektif yaitu arti yang diberikan kepada benda sebab benda tersebut sanggup digunakan untuk memenuhi kebutuhannya secara khusus. [1] Suatu barang dikatakan mempunyai nilai pakai subjektif apabila seseorang memperlihatkan evaluasi terhadap barang yang digunakannya. Hal ini mengakibatkan nilai pakai subjektif setiap orang berbeda-beda, tergantung kemampuan barang tersebut memperlihatkan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan. Misalnya, bagi seorang petani, cangkul sangat dibutuhkan dalam acara pertanian sehingga mempunyai nilai pakai yang tinggi. Bagaimana dengan seorang dokter? Apakah cangkul juga termasuk barang yang sangat dibutuhkannya? Bagi seorang dokter, cangkul tidak dibutuhkan, sehingga mempunyai nilai pakai yang rendah.

Contoh lain : [1]
  1. Raket mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi pemain bulutangkis daripada bagi petani.
  2. Jala mempunyai nilai pakai yang lebih besar bagi nelayan daripada bagi dokter.

2.2. Nilai Tukar


a) Nilai Tukar Objektif

Nilai tukar objektif yaitu kemampuan suatu barang untuk sanggup ditukarkan dengan barang jenis lain. Misalnya, jasa pemetikan kelapa ditukar dengan imbalan berupa sepertiga kepingan kelapa hasil petikannya. Artinya, jasa pemetik kelapa mempunyai nilai tukar objektif.

Contoh lain : [1]
  1. Beras sanggup ditukar dengan sejumlah jagung.
  2. Uang sanggup ditukar dengan gula atau dengan barang lain.
b) Nilai Tukar Subjektif

Nilai tukar subjektif yaitu nilai yang diberikan seseorang terhadap suatu barang dan jasa, sebab bisa ditukar dengan barang dan jasa lainnya untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya berdasarkan penarik becak, jasa mengantar penumpang dari stasiun menuju pasar Rp 5.000,00, tetapi berdasarkan calon penumpang hanya senilai Rp 3.000,00. Dengan demikian, nilai tukar atas jasa mengayuh becak yaitu nilai tukar subjektif, berdasarkan evaluasi masing-masing kebutuhan.

Contoh lain : [1]
  1. Menurut pemain badminton raket sanggup ditukarkan dengan Rp400.000,- Tapi berdasarkan petani, raket hanya sanggup ditukar dengan uang Rp20.000,-.
  2. Menurut kolektor barang antik, sebuah meja kuno Belanda sanggup ditukar dengan uang Rp10.000.000,-, tapi berdasarkan seorang nelayan meja tersebut hanya sanggup ditukar dengan uang Rp100.000,-.
Perlu kau ketahui, bahwa dalam teori nilai objektif lebih menitikberatkan pada kaum produsen, sedangkan konsumen lebih cenderung menilai barang dari segi subjeknya, atau siapa yang menilai. Oleh sebab itu, teori sikap konsumen merupakan teori nilai subjektif. [2]

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dibahas mengenai teori nilai objektif beserta tokoh-tokohnya.

a. Teori Nilai Pasar

Menurut Humme dan Locke, nilai suatu barang sangat tergantung pada usul dan penawaran barang di pasar.

b. Teori Nilai Biaya Produksi

Teori ini dikemukakan oleh Adam Smith. Menurutnya, nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh produsen untuk menciptakan barang tersebut. Menurutnya, semakin tinggi nilai pakai suatu barang, nilai tukarnya pun juga akan semakin tinggi.

c. Teori Nilai Tenaga Kerja

Menurut David Ricardo, nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah biaya tenaga kerja yang diharapkan untuk menghasilkan barang tersebut.

d. Teori Nilai Biaya Reproduksi

Menurut Carey, nilai suatu barang ditentukan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang itu kembali (biaya reproduksi). Oleh sebab untuk memilih nilai suatu barang tidak berpangkal pada biaya produksi yang pertama kali, tetapi pada biaya produksi yang dikeluarkan sekarang.

e. Teori Nilai Kerja Rata-Rata atau Teori Nilai Lebih

Menurut Karl Marx, tenaga kerja mempunyai nilai tukar dan nilai pakai bagi pengusaha. Dalam hal ini pengusaha harus membayar nilai tukarnya untuk mendapat nilai pakainya. Kelebihan nilai pakai atas nilai tukar inilah yang disebut nilai lebih.

Adapun tokoh-tokoh yang mengemukakan teori nilai subjektif di antaranya sebagai berikut.

a. Herman Henrich Gossen (1854)

Dalam teori nilai subjektif, Gossen mempelajari cara pemuasan kebutuhan yang dikemukakan dalam Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.

Hukum Gossen I, yaitu aturan kepuasan yang semakin berkurang (law of diminishing utility), yang berbunyi “Jika suatu kebutuhan dipenuhi terus-menerus, maka kenikmatannya makin usang makin berkurang, sehingga kesudahannya dicapai rasa kepuasan”.

Hukum Gossen II, yaitu aturan perata nilai batas atau law of marginal utility, berbunyi “Manusia akan berusaha untuk memenuhi banyak sekali macam kebutuhannya hingga pada tingkat intensitas yang sama”.

b. Karl Menger

Dalam Teori Nilai Austria, Karl Menger melanjutkan penelitiannya berdasarkan Hukum Gossen dengan menciptakan daftar kebutuhan konsumen, sehingga konsumen membagi pendapatannya untuk memenuhi banyak sekali kebutuhan hingga mencapai tingkat intensitas yang harmonis.

c. Von Bohm Bawerk

Teori Von Bohm Bawerk disebut Teori Nilai Batas. Nilai batas yaitu nilai yang diberikan kepada barang yang dimilikinya paling tamat atau nilai pemuasan yang paling akhir.

Referensi :

Nurcahyaningtyas. 2009. Ekonomi : Untuk Kelas X SMA/MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 322.

Referensi Lainnya :

[1] Sa’dyah, C. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengan Atas dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 434.

[2] Ismawanto. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas X. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 210.

Pintar Pelajaran Suara Pengertian Aturan Gossen 1 Dan 2, Contoh, Kegunaan Dan Nilai Barang, Ekonomi

Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi - Herman Heinrich Gossen, seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang dan jasa. Hasil penyelidikan Gossen ini menghasilkan hukum Gossen I dan II. Sebelum memahami aturan Gossen, Anda perlu mengenal konsep kegunaan total (total utility) dan kegunaan marginal (marginal utility) terlebih dahulu. Kegunaan total yaitu total kepuasan seorang individu yang diperoleh dari konsumsi suatu barang atau jasa dalam suatu periode waktu tertentu. Kegunaan total individu akan meningkat apabila jumlah yang dikonsumsi bertambah, tetapi pertambahan keuntungannya berkurang. Artinya setiap unit pelengkap yang dikonsumsi menambahkan nilai guna marginal yang lebih kecil dibandingkan dengan unit sebelumnya, seiring dengan kejenuhan individu terhadap produk tersebut. Setiap individu akan mendapat kepuasan yang berbeda dalam mengonsumsi sejumlah barang yang sama. Dasar evaluasi tersebut relatif, yaitu setiap individu bebas untuk memperlihatkan evaluasi atas suatu barang (subjektif). Perbedaan di antara kepuasan yang diperoleh individu dalam mengonsumsi barang harus dibayar dengan suatu pembayaran untuk memperoleh barang tersebut.

Kegunaan marginal (marginal utility) merupakan peningkatan kepuasan seorang konsumen sebab mengonsumsi satu unit pelengkap barang atau jasa. Kebanyakan barang dan jasa berguna marginal yang terus menurun. Artinya, ketika konsumsi suatu produk meningkat, nilai guna pelengkap yang diperoleh dari tiap unit pelengkap akan turun secara bertahap. Nah, dalam hal ini konsumen dikatakan memiliki kepuasan marginal yang menurun ketika beliau semakin merasa puas dengan mengonsumsi produk itu. Jadi, nilai guna marginallah yang memilih apakah sesuatu barang itu memiliki harga yang tinggi atau rendah. Hal ini akan diperjelas dalam hukum Gossen berikut.


Untuk memahami aturan Gossen 1, perhatikan pola berikut. 

Setelah seharian bekerja Andi merasa sangat lapar. Satu porsi nasi beserta lauk-pauknya akan memperlihatkan kepuasan total yang amat besar bagi Andi. Sehingga, sanggup dinilai sebesar 10 util (util = satuan kepuasan). Karena masih merasa lapar, Andi menambah satu porsi lagi. Tetapi, sebab perut Andi sudah terisi oleh porsi nasi pertama, kepuasan yang diperoleh sebab memakan porsi nasi kedua tidak sebesar 10 util, melainkan hanya 6 util.

Dengan demikian, kepuasan total yang diperoleh sehabis makan dua porsi nasi akan berjumlah 16 util. Jika Andi masih garang untuk menambah dengan porsi ketiga, bukan mustahil Andi akan menjadi sakit karenanya. Sehingga, bukan kepuasan yang Andi peroleh melainkan penderitaan.

Karena tidak memperlihatkan kepuasan, manfaat porsi nasi ketiga menjadi negatif sebesar –5 util dan kepuasan total yang diperoleh dari tiga porsi nasi tersebut 11 (lihat tabel 1).

Tabel 1. Hubungan Jumlah Barang yang Dikonsumsi dengan Kepuasan Total dan Kepuasan Marginal yang Diperoleh

Jumlah Porsi Nasi yang
Dikonsumsi
Kepuasan Total
(Total Utility)
Kepuasan Marginal
(Marginal Utility)
0
0
0
1
10
10 = (10 – 0)
2
16
6 = (16 – 10)
3
11
–5 = (11 – 16)

Pada tabel di atas, kolom marginal utility memperlihatkan adanya penurunan dari 10 hingga –5. Setelah makan pada porsi ke-1 kenikmatan dinilainya 10 util. Pada porsi ke-2, pelengkap kenikmatan menurun sehingga dinilai 6 util dan kepuasan total bertambah menjadi 16 util. Pada porsi ke-3, kepuasan menjadi negatif (–5). Apabila kepuasan total dan kepuasan marginal ditampilkan dalam bentuk grafik maka kurvanya menyerupai berikut ini. Kurva ini memperlihatkan korelasi antara jumlah barang yang dikonsumsi dengan tingkat kepuasan yang diperoleh.
 seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang Pintar Pelajaran Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi
Gambar 1. Kurva kepuasan total (TU).
 seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang Pintar Pelajaran Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi
Gambar 2. Kurva kepuasan marginal (MU).
Gejala pelengkap kepuasan yang tidak proporsional menyerupai dijelaskan di atas dikenal sebagai The Law of Diminishing Marginal Utility (Hukum Tambahan Kepuasan yang Terus Menurun). Hukum ini dikenal sebagai Hukum Gossen 1. 

Selengkapnya Hukum Gossen I berbunyi: 

"Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus ditambah, maka kepuasan total yang diperoleh juga bertambah. Akan tetapi, kepuasan marginal akan semakin berkurang. Bahkan kalau konsumsi terus dilakukan, pada balasannya pelengkap kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total menjadi berkurang."

Hukum Gossen I tersebut menyatakan pemuasan kebutuhan secara vertikal yaitu pemuasan satu macam kebutuhan yang dilakukan secara terus-menerus, sehingga kenikmatannya semakin usang semakin berkurang dan balasannya dicapai titik kepuasan. Namun, Hukum Gossen I memiliki kelemahan. Dalam praktik, orang tidak akan memuaskan satu macam kebutuhan hingga sepuas-puasnya, tetapi sehabis mencapai titik kepuasan tertentu akan menyusul kebutuhan yang lain, hal ini sebab kebutuhan itu bermacam-macam. Maka Hukum Gossen I dilengkapi dengan Hukum Gossen II (simak pendalaman materi berikutnya).


Hukum Gossen 1 membatasi jumlah objek konsumsi, yaitu satu jenis barang. Pada kenyataannya konsumen memerlukan majemuk jenis barang (dan jasa). Dengan sumber dana terbatas konsumen harus mencari kombinasi unit dari banyak sekali jenis barang, supaya semua kebutuhannya sanggup terpenuhi dan kepuasan maksimal sanggup tercapai.

Masalah tersebut dirumuskan dalam Hukum Gossen 2 yang berbunyi: 

"Seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluaran uangnya untuk membeli banyak sekali macam barang sedemikian rupa hingga kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara seimbang." 

Pembelian banyak sekali barang ini sedemikian rupa hingga rupiah terakhir yang dibelanjakan untuk membeli sesuatu memperlihatkan kepuasan marginal yang sama. Apakah itu pengeluaran untuk membeli barang yang satu atau untuk membeli barang yang lain.

Coba Anda baca kembali materi perihal kelangkaan di Sumber Daya Ekonomi.

Berdasarkan Hukum Gossen 2 ini, insan berusaha memenuhi kebutuhannya yang majemuk hingga pada tingkat intensitas yang sama. Ada kebutuhan akan makan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan lain-lain. Nah, dari kebutuhan pada tingkat intensitas yang sama, seseorang tidak akan menghabiskan uangnya hanya untuk membeli pakaian saja. Akan tetapi, uang yang dimilikinya dipakai untuk memenuhi kebutuhan lainnya sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Contoh :

Togar memiliki penghasilan Rp600.000,00. Untuk memenuhi semua kebutuhannya selama satu bulan dibutuhkan Rp750.000,00. Bagaimana caranya supaya Togar sanggup memakai uangnya seekonomis mungkin dan kepuasan maksimum tercapai? Simak terus uraian berikut.

Togar perlu menciptakan tabel pemuasan kebutuhan secara vertikal dan horizontal. Secara horizontal dari data jenis kebutuhan yang harus dipenuhinya, contohnya makan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan lain-lain. Sedangkan, secara vertikal diurutkan jumlah kebutuhan yang harus dipenuhi. Berdasarkan jenis dan jumlah kebutuhan, dibuatkan nilai kepuasan dari yang tertinggi hingga terendah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut.

Tabel 2. Pemuasan Kebutuhan Secara Vertikal dan Horizontal

Jumlah
Makan
Pakaian
Perumahan
Kesehatan
Kesenangan
1
10




2
9
9



3
8
8
8


4
7
7
7
7

5
6
6
6
6
6
6
5
5
5
5
5
7
4
4
4
4
4
8
3
3
3
3
3
9
2
2
2
2
2
10
1
1
1
1
1
11
0
0
0
0
0
Jumlah
55
45
36
28
21

Dari tabel di atas, terlihat bahwa makan memiliki nilai tertinggi yaitu 10, pakaian 9, perumahan 8, kesehatan 7, dan kesenangan 6. Golongan kebutuhan marginal yaitu kebutuhan ke-5, yaitu kebutuhan kesenangan. Jika seluruh penghasilan Togar dipakai untuk makan, nilai kepuasannya berjumlah 55. Hal ini mustahil dilakukannya sebab beliau harus membagi uang sesuai intensitasnya (tingkatan) kebutuhan. Jika uang yang dimilikinya Rp 600.000,00 dan setiap satuan jumlah kebutuhan, contohnya dibutuhkan Rp 50.000,00, jumlah satuan kebutuhan yang terpenuhi, yaitu:

 = 30 unit

Hukum Gossen II tersebut merupakan pemuasan kebutuhan secara horizontal. Pemuasan kebutuhan secara horizontal, yaitu pemuasan kebutuhan tidak bertumpu pada satu jenis barang saja, melainkan berusaha pula untuk memenuhi kebutuhan akan barang lainnya.

Anda kini sudah mengetahui Hukum Gossen. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Nurcahyaningtyas. 2009. Ekonomi : Untuk Kelas X SMA/MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 322.

Pintar Pelajaran Suara Pengertian Aturan Gossen 1 Dan 2, Contoh, Kegunaan Dan Nilai Barang, Ekonomi

Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi - Herman Heinrich Gossen, seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang dan jasa. Hasil penyelidikan Gossen ini menghasilkan hukum Gossen I dan II. Sebelum memahami aturan Gossen, Anda perlu mengenal konsep kegunaan total (total utility) dan kegunaan marginal (marginal utility) terlebih dahulu. Kegunaan total yaitu total kepuasan seorang individu yang diperoleh dari konsumsi suatu barang atau jasa dalam suatu periode waktu tertentu. Kegunaan total individu akan meningkat apabila jumlah yang dikonsumsi bertambah, tetapi pertambahan keuntungannya berkurang. Artinya setiap unit pelengkap yang dikonsumsi menambahkan nilai guna marginal yang lebih kecil dibandingkan dengan unit sebelumnya, seiring dengan kejenuhan individu terhadap produk tersebut. Setiap individu akan mendapat kepuasan yang berbeda dalam mengonsumsi sejumlah barang yang sama. Dasar evaluasi tersebut relatif, yaitu setiap individu bebas untuk memperlihatkan evaluasi atas suatu barang (subjektif). Perbedaan di antara kepuasan yang diperoleh individu dalam mengonsumsi barang harus dibayar dengan suatu pembayaran untuk memperoleh barang tersebut.

Kegunaan marginal (marginal utility) merupakan peningkatan kepuasan seorang konsumen sebab mengonsumsi satu unit pelengkap barang atau jasa. Kebanyakan barang dan jasa berguna marginal yang terus menurun. Artinya, ketika konsumsi suatu produk meningkat, nilai guna pelengkap yang diperoleh dari tiap unit pelengkap akan turun secara bertahap. Nah, dalam hal ini konsumen dikatakan memiliki kepuasan marginal yang menurun ketika beliau semakin merasa puas dengan mengonsumsi produk itu. Jadi, nilai guna marginallah yang memilih apakah sesuatu barang itu memiliki harga yang tinggi atau rendah. Hal ini akan diperjelas dalam hukum Gossen berikut.


Untuk memahami aturan Gossen 1, perhatikan pola berikut. 

Setelah seharian bekerja Andi merasa sangat lapar. Satu porsi nasi beserta lauk-pauknya akan memperlihatkan kepuasan total yang amat besar bagi Andi. Sehingga, sanggup dinilai sebesar 10 util (util = satuan kepuasan). Karena masih merasa lapar, Andi menambah satu porsi lagi. Tetapi, sebab perut Andi sudah terisi oleh porsi nasi pertama, kepuasan yang diperoleh sebab memakan porsi nasi kedua tidak sebesar 10 util, melainkan hanya 6 util.

Dengan demikian, kepuasan total yang diperoleh sehabis makan dua porsi nasi akan berjumlah 16 util. Jika Andi masih garang untuk menambah dengan porsi ketiga, bukan mustahil Andi akan menjadi sakit karenanya. Sehingga, bukan kepuasan yang Andi peroleh melainkan penderitaan.

Karena tidak memperlihatkan kepuasan, manfaat porsi nasi ketiga menjadi negatif sebesar –5 util dan kepuasan total yang diperoleh dari tiga porsi nasi tersebut 11 (lihat tabel 1).

Tabel 1. Hubungan Jumlah Barang yang Dikonsumsi dengan Kepuasan Total dan Kepuasan Marginal yang Diperoleh

Jumlah Porsi Nasi yang
Dikonsumsi
Kepuasan Total
(Total Utility)
Kepuasan Marginal
(Marginal Utility)
0
0
0
1
10
10 = (10 – 0)
2
16
6 = (16 – 10)
3
11
–5 = (11 – 16)

Pada tabel di atas, kolom marginal utility memperlihatkan adanya penurunan dari 10 hingga –5. Setelah makan pada porsi ke-1 kenikmatan dinilainya 10 util. Pada porsi ke-2, pelengkap kenikmatan menurun sehingga dinilai 6 util dan kepuasan total bertambah menjadi 16 util. Pada porsi ke-3, kepuasan menjadi negatif (–5). Apabila kepuasan total dan kepuasan marginal ditampilkan dalam bentuk grafik maka kurvanya menyerupai berikut ini. Kurva ini memperlihatkan korelasi antara jumlah barang yang dikonsumsi dengan tingkat kepuasan yang diperoleh.
 seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang Pintar Pelajaran Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi
Gambar 1. Kurva kepuasan total (TU).
 seorang ekonom Jerman mencoba menyelidiki cara pemuasan kebutuhan insan terhadap barang Pintar Pelajaran Bunyi Pengertian Hukum Gossen 1 dan 2, Contoh, Kegunaan dan Nilai barang, Ekonomi
Gambar 2. Kurva kepuasan marginal (MU).
Gejala pelengkap kepuasan yang tidak proporsional menyerupai dijelaskan di atas dikenal sebagai The Law of Diminishing Marginal Utility (Hukum Tambahan Kepuasan yang Terus Menurun). Hukum ini dikenal sebagai Hukum Gossen 1. 

Selengkapnya Hukum Gossen I berbunyi: 

"Jika jumlah suatu barang yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu terus ditambah, maka kepuasan total yang diperoleh juga bertambah. Akan tetapi, kepuasan marginal akan semakin berkurang. Bahkan kalau konsumsi terus dilakukan, pada balasannya pelengkap kepuasan yang diperoleh akan menjadi negatif dan kepuasan total menjadi berkurang."

Hukum Gossen I tersebut menyatakan pemuasan kebutuhan secara vertikal yaitu pemuasan satu macam kebutuhan yang dilakukan secara terus-menerus, sehingga kenikmatannya semakin usang semakin berkurang dan balasannya dicapai titik kepuasan. Namun, Hukum Gossen I memiliki kelemahan. Dalam praktik, orang tidak akan memuaskan satu macam kebutuhan hingga sepuas-puasnya, tetapi sehabis mencapai titik kepuasan tertentu akan menyusul kebutuhan yang lain, hal ini sebab kebutuhan itu bermacam-macam. Maka Hukum Gossen I dilengkapi dengan Hukum Gossen II (simak pendalaman materi berikutnya).


Hukum Gossen 1 membatasi jumlah objek konsumsi, yaitu satu jenis barang. Pada kenyataannya konsumen memerlukan majemuk jenis barang (dan jasa). Dengan sumber dana terbatas konsumen harus mencari kombinasi unit dari banyak sekali jenis barang, supaya semua kebutuhannya sanggup terpenuhi dan kepuasan maksimal sanggup tercapai.

Masalah tersebut dirumuskan dalam Hukum Gossen 2 yang berbunyi: 

"Seorang konsumen akan membagi-bagi pengeluaran uangnya untuk membeli banyak sekali macam barang sedemikian rupa hingga kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara seimbang." 

Pembelian banyak sekali barang ini sedemikian rupa hingga rupiah terakhir yang dibelanjakan untuk membeli sesuatu memperlihatkan kepuasan marginal yang sama. Apakah itu pengeluaran untuk membeli barang yang satu atau untuk membeli barang yang lain.

Coba Anda baca kembali materi perihal kelangkaan di Sumber Daya Ekonomi.

Berdasarkan Hukum Gossen 2 ini, insan berusaha memenuhi kebutuhannya yang majemuk hingga pada tingkat intensitas yang sama. Ada kebutuhan akan makan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan lain-lain. Nah, dari kebutuhan pada tingkat intensitas yang sama, seseorang tidak akan menghabiskan uangnya hanya untuk membeli pakaian saja. Akan tetapi, uang yang dimilikinya dipakai untuk memenuhi kebutuhan lainnya sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Contoh :

Togar memiliki penghasilan Rp600.000,00. Untuk memenuhi semua kebutuhannya selama satu bulan dibutuhkan Rp750.000,00. Bagaimana caranya supaya Togar sanggup memakai uangnya seekonomis mungkin dan kepuasan maksimum tercapai? Simak terus uraian berikut.

Togar perlu menciptakan tabel pemuasan kebutuhan secara vertikal dan horizontal. Secara horizontal dari data jenis kebutuhan yang harus dipenuhinya, contohnya makan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan lain-lain. Sedangkan, secara vertikal diurutkan jumlah kebutuhan yang harus dipenuhi. Berdasarkan jenis dan jumlah kebutuhan, dibuatkan nilai kepuasan dari yang tertinggi hingga terendah. Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut.

Tabel 2. Pemuasan Kebutuhan Secara Vertikal dan Horizontal

Jumlah
Makan
Pakaian
Perumahan
Kesehatan
Kesenangan
1
10




2
9
9



3
8
8
8


4
7
7
7
7

5
6
6
6
6
6
6
5
5
5
5
5
7
4
4
4
4
4
8
3
3
3
3
3
9
2
2
2
2
2
10
1
1
1
1
1
11
0
0
0
0
0
Jumlah
55
45
36
28
21

Dari tabel di atas, terlihat bahwa makan memiliki nilai tertinggi yaitu 10, pakaian 9, perumahan 8, kesehatan 7, dan kesenangan 6. Golongan kebutuhan marginal yaitu kebutuhan ke-5, yaitu kebutuhan kesenangan. Jika seluruh penghasilan Togar dipakai untuk makan, nilai kepuasannya berjumlah 55. Hal ini mustahil dilakukannya sebab beliau harus membagi uang sesuai intensitasnya (tingkatan) kebutuhan. Jika uang yang dimilikinya Rp 600.000,00 dan setiap satuan jumlah kebutuhan, contohnya dibutuhkan Rp 50.000,00, jumlah satuan kebutuhan yang terpenuhi, yaitu:

 = 30 unit

Hukum Gossen II tersebut merupakan pemuasan kebutuhan secara horizontal. Pemuasan kebutuhan secara horizontal, yaitu pemuasan kebutuhan tidak bertumpu pada satu jenis barang saja, melainkan berusaha pula untuk memenuhi kebutuhan akan barang lainnya.

Anda kini sudah mengetahui Hukum Gossen. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Nurcahyaningtyas. 2009. Ekonomi : Untuk Kelas X SMA/MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 322.