Showing posts sorted by relevance for query manfaat-fungsi-protein-bagi-tubuh-manusia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query manfaat-fungsi-protein-bagi-tubuh-manusia. Sort by date Show all posts

Wednesday, November 20, 2019

Pintar Pelajaran Manfaat, Fungsi Protein Bagi Badan Manusia, Kegunaan, Kimia

Manfaat, Fungsi Protein bagi Tubuh Manusia, Kegunaan, Kimia - Protein memiliki fungsi, antara lain menyerupai berikut.

1) Sebagai Enzim

Hampir semua reaksi biologi dipercepat oleh suatu senyawa makromolekul spesifik yang disebut enzim, mulai dari reaksi yang sangat sederhana menyerupai reaksi transportasi karbon dioksida hingga yang sangat rumit menyerupai replikasi kromosom. Sampai ketika ini lebih dari seribu enzim telah sanggup diketahui sifat-sifatnya dan jumlah tersebut masih terus bertambah.

2) Alat Pengangkut dan Alat Penyimpan

Banyak molekul dengan massa molekul relatif (Mr) kecil serta beberapa ion sanggup diangkut atau dipindahkan oleh protein tertentu. Misalnya hemoglobin mengangkut oksigen dalam eritrosit, sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transterin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan feritin, suatu protein yang berbeda dengan transferin.

3) Pengatur Pergerakan

Protein merupakan komplek utama daging. Gerakan otot terjadi lantaran adanya dua molekul protein yang saling bergeseran. Contohnya pergerakan flagela sprma disebabkan oleh protein.

4) Penunjang Mekanis

Kekuatan serta daya tahan kulit dan tulang disebabkan adanya kalogen yakni suatu protein berbentuk lingkaran panjang dan gampang membentuk serabut.

5) Pertahanan Tubuh/Imunisasi

Pertahanan badan biasanya dalam bentuk antibodi, yakni suatu protein khusus yang sanggup mengenal dan melekat atau mengikat benda-benda gila yang masuk ke dalam badan menyerupai virus, bakteri, dan sel-sel gila lain. Protein ini pandai sekali membedakan benda-benda yang menjadi anggota badan dengan benda-benda asing.

6) Media Perambatan Impuls Saraf

Protein yang memiliki fungsi ini biasanya berbentuk reseptor. Misalnya rodopsin, yang bertindak sebagai reseptor/penerima warna atau cahaya pada sel-sel mata.

7) Pengendalian Pertumbuhan

Protein ini bekerja sebagai reseptor (dalam bakteri) yang sanggup mensugesti fungsi bagian-bagian DNA yang mengatur sifat dan abjad bahan.

Anda kini sudah mengetahui Fungsi Protein. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Sukmanawati, W. 2009. Kimia 3 : Untuk SMA/ MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 266.

Sunday, July 19, 2020

Enam Jenis Nutrisi Untuk Tubuh

Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan, menyerupai detak jantung, kedipan kelopak mata, dan mengangkat barang. Tubuh juga memakai energi untuk mempertahankan suhu badan normal sekitar 37°C. Energi tersebut berasal dari masakan yang dimakan. Jumlah energi yang dibutuhkan oleh badan untuk beraktivitas diukur dalam satuan kalori. Sama halnya pada tubuh, jumlah energi yang tersedia dalam masakan juga diukur dalam satuan kalori. Satu kalori (Cal) mengatakan jumlah panas yang dibutuhkan untuk menaikkan 1°C suhu dari 1 g air.

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari harus mengandung enam jenis nutrisi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Karbohidrat, lemak, dan protein dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak, sedangkan vitamin dan mineral dibutuhkan badan dalam jumlah yang hanya sedikit. Makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, dan protein perlu dicerna atau dipecah terlebih dahulu oleh tubuh, sedangkan air, vitamin, dan mineral sanggup diserap eksklusif oleh sel-sel tubuh.

Karbohidrat
Karbohidrat yaitu sumber utama energi bagi tubuh. Satu gram karbohidrat menghasilkan 4,0 – 4,1 kilokalori (kkal). Tiga jenis karbohidrat yaitu gula, pati, dan serat. Gula disebut karbohidrat sederhana. Contoh masakan yang mengandung gula antara lain buahbuahan, madu, dan susu. Dua jenis karbohidrat lainnya, yaitu pati dan serat disebut karbohidrat kompleks. Pati ditemukan dalam kentang dan masakan yang terbuat dari biji-bijian. Serat, menyerupai selulosa ditemukan di dinding sel tumbuhan. 

Makanan menyerupai roti gandum atau sereal, kacang-kacangan, kacang polong, sayuran, dan buah-buahan lainnya merupakan sumber serat yang baik. Serat tidak sanggup dicerna oleh susukan pencernaan masakan manusia, sehingga dikeluarkan sebagai feses. Dengan demikian, serat bukan merupakan sumber energi bagi badan manusia. Mengonsumsi karbohidrat terlalu berlebihan sanggup menyebabkan penyakit gula atau diabetes.

Lemak
Lemak atau lipid dibutuhkan badan sebab berfungsi menyediakan energi sebesar 9 kilokalori/gram; melarutkan vitamin A, D, E, K dan sanggup menyediakan asam lemak esensial bagi badan manusia. Selama proses pencernaan, lemak dipecah menjadi molekul yang lebih kecil, yaitu asam lemak dan gliserol.

Kelebihan energi dari masakan yang ada dalam badan diubah menjadi lemak dan disimpan untuk dipakai dilain waktu. Berdasarkan struktur kimianya, lemak dibedakan menjadi lemak jenuh dan lemak tak jenuh. 
  • Lemak tak jenuh biasanya cair pada suhu kamar. Minyak nabati dan lemak yang ditemukan dalam biji merupakan referensi dari lemak tak jenuh. 
  • Lemak jenuh biasanya padat pada suhu kamar dan ditemukan dalam daging, susu, keju, minyak kelapa, dan minyak kelapa sawit. Lemak jenuh sanggup meningkatkan kolesterol darah yang sanggup menyebabkan penyakit jantung dan stroke.

Protein
Protein dibutuhkan sebagai penghasil energi. Protein juga berfungsi untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel badan yang rusak, pembuat enzim dan hormon, serta pembentuk antibodi. Protein merupakan molekul besar yang terdiri atas sejumlah asam amino. Asam amino terdiri atas karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dan adakala ada belerang. Protein  dapat berasal dari binatang (protein hewani) dan tumbuhan (protein nabati). 
  • Bahan masakan yang mengandung protein hewani antara lain daging, ikan, telur, susu, dan keju. 
  • Bahan masakan yang mengandung protein nabati yaitu kacang kedelai, kacang hijau, dan kacang-kacangan lainnya. Kacang kedelai sebagai materi baku tempe dan tahu merupakan salah satu sumber protein terbaik. .

Vitamin
Walaupun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, namun harus tetap ada, sebab dibutuhkan untuk mengatur fungsi badan dan mencegah beberapa penyakit. Vitamin dikelompokkan menjadi dua, yaitu vitamin yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Khusus vitamin D sanggup terbentuk dikala kulit terkena sinar matahari, sebab di dalam badan ada pro vitamin D. Berikut ini jenis vitamin, sumber, dan manfaatnya.
No.VitaminManfaatSumberGambar
1.Vitamin Amata, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan tulang dan menguatkan gigiSusu, telur, hati, sayuran berwarna oranye menyerupai wortel, ubi jalar, labu, dan buah-buahan
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh
2.Vitamin B.Mengatur fungsi tubuh, membantu untuk menghasilkan sel darah merahGandum, masakan laut, daging, telur, produk susu menyerupai susu asam, sayuran berdaun hijau, dan kacang
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh
3.Vitamin CMembentuk kolagen, membantu menjaga kesehatan jaringan badan menyerupai gusi dan otot, serta membantu badan melawan infeksiBuah jeruk, stroberi, jambu biji, cabai, tomat, brokoli, dan bayam
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh
4.Vitamin DMenguatkan tulang dan gigi, membantu badan menyerap kalsium pembentuk tulangKuning telur, minyak ikan, dan masakan yang diperkaya menyerupai susu, susu kedelai, dan sari buah jeruk
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh
5.Vitamin ESebagai antioksidan dan membantu melindungi sel atas kerusakan, penting bagi kesehatan sel-sel darah merahMinyak sayur, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau, alpukat, gandum, dan biji-bijian
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh
6.Vitamin KMembantu pembekuan darah serta meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan tulangAlpukat, anggur, sayuran hijau, produk susu menyerupai susu asam, umbi-umbian, biji-bijian, dan telur
 Tubuh membutuhkan energi untuk setiap kegiatan Enam Jenis Nutrisi untuk Tubuh

Mineral
Tubuh memerlukan sekitar 14 jenis mineral, diantaranya kalsium, posfor, potasiun, sodium, besi, iodium, dan seng. Mineral merupakan nutrisi yang sedikit mengandung atom karbon. Satu jenis masakan yang kau konsumsi ternyata sanggup mengandung lebih dari satu jenis zat gizi, contohnya pada susu terkandung protein, lemak, dan mineral berupa kalsium. Mineral berfungsi untuk proses pembangunan sel, membantu reaksi kimia tubuh, mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, serta pembentukan dan pemeliharaan tulang. Beberapa referensi mineral antara lain sebagai berikut.
  1. Kalsium. Kalsium mempunyai kegunaan dalam pembentukan tulang dan gigi, serta kerja otot dan syaraf. Sumber kalsium antara lain telur, sayuran hijau, kedelai
  2. Posfor Fosfor mempunyai kegunaan untuk kerja otot dan pembentukan tulang-gigi. Sumber fosfor antara lain daging, gandum, keju
  3. Potasium. Potasium mempunyai kegunaan untuk keseimbangan air dalam sel, mempercepat hantaran rangsang pada syaraf dan kerja otot. Sumber potasium antara lain pisang, kentang, kacang, daging, dan jeruk
  4. Sodium. Sodium mempunyai kegunaan untukkeseimbangan cairan dalam jaringan tubuh, dan mempercepat hantaran rangsang pada syaraf. Sumber sodium antara lain daging, susu, keju, garam, dan wortel
  5. Besi. Besi mempunyai kegunaan untuk materi utama penyusunan hemoglobin pada darah merah. Sumber zat besi antara lain daging merah, kacang, bayam, dan telur
  6. Iodium. Iodium mempunyai kegunaan untuk kerja kelenjar tiroid dan merangsang metabolisme. Sumber iodium antara lain ikan laut, garam dan beriodium
  7. Seng. Seng mempunyai kegunaan bagi kekebalan tubuh, kesehatan mata, menghambat virus, mengurangi risiko kanker, kesehatan organ vital laki-laki, dan mempercepat penyembuhan luka. Sumber seng antara lain kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum

Air
Sekitar 60 - 80% komponen sel badan makhluk hidup yaitu air. Tubuh sanggup kehilangan air dikala bernapas, berkeringat, buang air besar dan buang air kecil. Kehilangan air tersebut harus segera diganti dengan minum air sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari. Namun, minum air bukan satu-satunya cara untuk memasok sel-sel dengan air, sebab tanpa disadari masakan yang kau makan mengandung banyak air. Contoh, apel mengandung 80 persen air dan daging mengandung 66 persen air.

Air dibutuhkan oleh badan sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh, pengatur suhu tubuh, pelarut zat-zat gizi lain dan pembantu proses pencernaan makanan, pelumas dan bantalan, media transportasi, serta media pengeluaran sisa metabolisme.

Sunday, November 24, 2019

Pembelajaran 6 Subtema 1 Sumber Energi

Guru menjelaskan pentingnya melestarikan sumber energi. Setelah mendengar klarifikasi guru, Siti memahami. Kini Siti menyadari kewajiban menghemat energi. Siti tidak lagi membiarkan keran air terbuka sesudah tamat dipakai. Siti tidak lagi menghambur-hamburkan air ketika mandi. Siti juga mulai membiasakan diri mematikan lampu yang tidak diperlukan.

Siti telah melaksanakan kewajibannya di rumah. Orang tuanya menawarkan hak untuk memanfaatkan energi. Berikut ini teladan hak yang diperoleh Siti.
1. Mendapatkan masakan dan minuman sebagai sumber energi.
2. Menggunakan lampu ketika belajar.
3. Menyalakan kipas angin ketika kepanasan.
4. Menyalakan televisi untuk hiburan.
Guru menjelaskan pentingnya melestarikan sumber energi Pembelajaran 6 Subtema 1 Sumber Energi
Kita boleh menuntut hak sesudah melaksanakan kewajiban. Makara kewajiban harus didahulukan daripada hak. Hak dan kewajiban harus dilaksanakan secara seimbang.

Ayo Berdiskusi
Carilah teman untuk diskusi! Diskusikan hak yang sesuai dengan kewajiban yang tertulis pada tabel berikut! Kerjakan di buku tugasmu!
KewajibanHak
Mematikan keran air kalau tidak dipakai.Mendapatkan air yang cukup untuk mandi
Tidak membuang-buang makananMendapatkan asupan gizi yang dibutuhkan
Mematikan lampu di siang hari.Dapat membaca buku dengan penerangan yang cukup
Tidak menghamburkan air di kamar mandi.Tersedianya air untuk aneka macam kebutuhan
Menghabiskan minum yang sudah diambilMendapatkan minuman untuk kebutuhan tubuh

Ayo Menulis
Kalian telah diskusi dengan teman untuk melengkapi tabel di atas. Sekarang buatlah sebuah goresan pena perihal sumber energi yang telah kau pelajari. Kamu sanggup menulis perihal matahari, air, angin, atau makanan. Semakin lengkap informasimu semakin baik. Kerjakan di buku tugasmu!

Matahari
Energi surya yaitu energi yang berupa sinar dan panas dari matahari. Energi ini sanggup dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik dan fotosintesis pada tumbuhan. Matahari mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah menciptakan bumi tetap hangat bagi kehidupan, menciptakan udara dan air di bumi bersirkulasi, dan banyak hal lainnya.

Matahari juga merupakan sumber energi terbesar di bumi. Tanpa matahari, sulit dibayangkan kalau akan ada kehidupan di bumi. Karena berkat adanya sinar matahari, dunia ini menjadi hidup alasannya sinar matahari menawarkan energi pada semua mahluk bumi.

Pemanfaatan sumber energi matahari sudah digunakan orang semenjak dahulu. Panas Matahari biasa digunakan untuk mengeringkan cucian, mengeringkan hasil bumi.

Angin
Pemanfaatan energi angin muncul alasannya energi angin ini tersedia tanpa ada batas habibisnya. Energi angin ini niscaya mempunyai manfaat ibarat eneri alam lainnya, ibarat energi panas bumi. Dengan memanfaatkan energi dari alam ini, tentunya penggunaannya tidak akan merusak alam alasannya terjadinya pergerakan angin terjadi secara alamiah.

Sekarang ini, ada banyak manfaat dari energi angin dalam kehidupan sehari-hari. Pada bidang kelautan, energi angin digunakan semenjak ribuan tahun kemudian sebagai pelopor pada layar kapal. Di bab serpihan dunia lainnya, energi angin ini telah usang digunakan sebagai pelopor kincir angin untuk keperluan penggilingan gandum atau tepung. Energi angin juga sanggup dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Air
Sumber daya air yang cukup sangat dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian. Pengairan dalam pertanian sering kali dilakukan petani ketika demam isu kemarau dimana hujan tidak turun. Jika tidak ada pengairan, maka tumbuhan pertanian tidak sanggup tumbuh dengan baik.

Sumber daya air menjadi salah satu sumber pembangkit tenaga listrik yang disebut dengan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). Air yang mengalir deras dari sumbernya sanggup dimanfaatkan untuk menggerakan turbin pembangkit listrik. Turbin yang berputar akan mengubah energi potensial dari air menjadi energi mekanis. Energi mekanis kemudian diubah oleh generator listrik menjadi energi listrik. Hal tersebut menciptakan pemerintah membangun banyak waduk dan bendungan untuk menampung dan mengalirkan air sehingga mencukupi kebutuhan air untuk membangkitkan tenaga listrik.

Makanan
Makanan merupakan sumber energi bagi badan manusia. Untuk berolahraga, belajar, dan acara lain, kita membutuhkan masakan sebagai sumber energi.. Makanan dibutuhkan oleh badan sebagai sumber energi. Dengan asupan masakan yang baik dan cukup, kau sanggup melaksanakan aneka macam acara sehari-hari. Zat masakan yang berperan sebagai sumber energi yaitu karbohidrat, lemak, dan protein.

Ayo Berlatih
Setiap kegiatan membutuhkan waktu. Dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Tentukan lamanya kegiatan berikut!
Mulai KegiatanSelesai KegiatanLamanya
Pukul 07.00Pukul 10.003 jam
Hari SeninHari Jumat5 hari
Bulan JanuariBulan Mei5 bulan
Pukul 09.00Pukul 12.003 jam
Pukul 14.00Pukul 15.301 jam 30 menit

Alat yang digunakan di rumahWaktu mulai
digunakan
Waktu selesai
digunakan
Lama
penggunaan
Mesin Air04.0005.301 jam 30 menit
Kipas Angin21.0004.007 jam 0 menit
Televisi14.3017.002 jam 30 menit
Lampu Listrik19.3021.001 jam 30 menit
Penanak Nasi Listrik10.0010.300 jam 30 menit

Wednesday, November 20, 2019

Pintar Pelajaran Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan

Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan - Vitamin A ialah kelompok nutrisi hidrokarbon tak jenuh, yang mencakup retinol, retinal, asam retinoat, dan beberapa karotenoid provitamin A, di antaranya  adalah beta-karoten yang merupakan karotenoid provitamin A terpenting [1]. Vitamin A mempunyai beberapa fungsi, yaitu; sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta untuk pemeliharaan sistem kekebalan tubuh dan visi/penglihatan  yang baik [2]. Vitamin A dibutuhkan oleh retina mata dalam bentuk retinal. Retinal berkombinasi dengan  protein opsin untuk membentuk rhodopsin yang merupakan molekul menyerap cahaya [3]. Rhodopsin sangat diharapkan untuk menangkap cahaya rendah (visi scotopic) dan penentuan warna yang dilihat oleh mata [4]. Vitamin A juga juga sanggup berfungsi dalam tugas yang berbeda dalam bentuk retinol yang teroksidasi secara irreversibel yang dikenal sebagai asam retinoat. Asam retinoat berperan menyerupai hormon untuk faktor  pertumbuhan bagi sel epitel dan sel-sel lainnya [5].
 Vitamin A ialah kelompok nutrisi hidrokarbon tak jenuh Pintar Pelajaran Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan
Gambar 1. Trans Retinol. [65]
Pada masakan yang berasal dari hewan, bentuk utama dari vitamin A ialah ester, terutama dalam bentk retinyl palmitate yang kemudian akan dikonversi menjadi retinol (secara kimia ialah alkohol) di usus kecil. Bentuk retinol ini berfungsi sebagai kawasan penyimpanan vitamin, kemudian sanggup dikonversi dari dan menjadi bentuk aldehida visual aktif, berupa retinal. Senyawa asam yang berafiliasi dengan vitamin A berupa retinoic acid, merupakan suatu metabolit yang sanggup disintesis secara irreversibel dari vitamin A dan hanya merupakan sebagian dari acara vitamin A. Retinoic acid ini tidak berfungsi pada siklus penglihatan yang terjadi di retina. Retinoic acid dipakai untuk pertumbuhan dan diferensisasi seluler [6].

Semua bentuk vitamin A mempunyai cincin beta-Ionone dimana terdapat rantai isoprenoid pada cincin tersebut, kelompok ini kelompok retinil. Kedua fitur struktural tersebut sangat penting untuk acara vitamin [7]. Pigmen oranye pada wortel, beta-karoten, sanggup direpresentasikan sebagai dua kelompok retinil yang terhubung, yang dipakai di dalam tubuh untuk berkontribusi terhadap tingkatan vitamin A. Alpha-karoten dan gamma-karoten juga mempunyai kelompok retinil tunggal, yang memperlihatkan mereka beberapa acara vitamin. Tidak satu pun dari karoten jenis lain mempunyai acara vitamin. Karotenoid, beta-cryptoxanthinpossesses, mempunyai kelompok Ionone dan mempunyai acara vitamin pada manusia.

Vitamin A sanggup ditemukan dalam dua bentuk utama di dalam masakan :

Senyawa dan kondisi kimia lingkungannya
Mikrogram retinol yang setara dengan satu mikrogram senyawa pada tabel di samping
retinol
1
Beta-karoten, yang larut dalam minyak
1/2
Beta-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/12
Alpha-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/24
Gamma-karoten, terdapat pada masakan secara umum
1/24
Beta-cryptoxanthin, terdapat pada masakan secara umum
1/24

Retinol ialah bentuk dari vitamin A yang diperoleh ketika mengkonsumsi sumber pangan hewani. Retinol berwarna kuning dan merupakan senyawa yang larut dalam lemak. Oleh sebab dalam bentuk alkohol murni bersifat tidak stabil, vitamin yang ditemukan di dalam jaringan berbentuk ester retinil. Retinol juga diproduksi secara komersial dalam bentuk ester menyerupai retinil asetat atau palmitat [8].

Karoten; alpha-karoten, beta-karoten, gamma-karoten, dan xanthophyll beta-cryptoxanthin (semuanya mengandung cincin beta-Ionone), berfungsi sebagai provitamin A pada binatang herbivora dan omnivora yang mempunyai enzim 15-15'-dioxygenase yang memotong beta-karoten dalam mukosa usus dan mengkonversinya menjadi retinol [9]. Secara umum, karnivora ialah converter yang jelek dari karotenoid yang mengandung ionin. Karnivora murni menyerupai kucing dan musang kekurangan 15-15'-dioxygenase dan tidak sanggup mengkonversi karotenoid menjadi retinal (sehingga menimbulkan tidak ada karotenoid dalam bentuk vitamin A pada spesies ini).

1. Sejarah Vitamin A

Penemuan vitamin A kemungkinan berasal dari penelitian yang dilakukan pada tahun 1816, ketika seorang fisiologis berjulukan Magendie mengamati bahwa anjing kekurangan nutrisi menderita ulkus kornea dan mempunyai tingkat janjkematian yang tinggi [10]. Pada tahun 1912, Frederick Gowland Hopkins memperlihatkan bahwa "faktor aksesori" yang tidak diketahui ditemukan di dalam susu, selain karbohidrat, protein, dan lemak yang diharapkan untuk pertumbuhan pada tikus. Hopkins mendapatkan Hadiah Nobel untuk inovasi ini pada tahun 1929.[11][12] Pada tahun 1917, salah satu zat ini secara independen ditemukan oleh Elmer McCollum dari University of Wisconsin-Madison, dan Lafayette Mendel dan Thomas Osborne Burr dariYale University yang mempelajari tugas lemak di dalam diet. "Faktor aksesori" diberi istilah "larut dalam lemak (fat-soluble)" pada tahun 1918 dan kemudian diberi nama "vitamin A" pada tahun 1920. Pada tahun 1919, Harry Steenbock (University of Wisconsin) mengusulkan relasi antara pigmen tumbuhan berwarna kuning (beta-karoten) dengan vitamin A. Pada tahun 1931, seorang kimiawan dari Swiss berjulukan Paul Karrer menggambarkan struktur kimia vitamin A. [13] Vitamin A pertama kali disintesis pada tahun 1947 oleh dua kimiawan asal Belanda; David Adriaan van Dorp dan Jozef Ferdinand Arens.

2. Nilai Ekuivalen dari Retinoid dan Karotenoid

Beberapa jenis karotenoid sanggup dikonversi menjadi vitamin A. Beberapa upaya telah dilakukan untuk memilih berapa banyak nilai dari kandungan karotenoid di dalam masakan yang setara dengan jumlah retinol tertentu, sehingga perbandingan dari manfaat masakan yang berbeda sanggup dibuat. Selama bertahun-tahun, sistem international unit (IU) yang dipakai ialah satu IU setara dengan 0,3 ug retinol, 0,6 ug β-karoten, atau 1,2 mg provitamin A karotenoid [14] Kemudian, satuan lainnya yang disebut retinol equivalent (RE) diperkenalkan. Sebelum tahun 2001, satu RE setara dengan: 1 mg retinol, 2 mg β-karoten yang larut dalam minyak (pada kebanyakan pil suplemen hanya sebagian yang larut, sebab tingkat kelarutan sangat rendah pada medium apapun), 6 mg β-karoten pada masakan normal (karena tidak diserap ketika dalam minyak), dan 12 ug α-karoten, γ-karoten, atau β-cryptoxanthin di dalam makanan.

Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa, penyerapan provitamin-A karotenoid hanya setengah dari jumlah yang diperkirakan sebelumnya. Sebagai hasilnya, pada tahun 2001, US Institute of Medicine mengeluarkan satuan gres yaitu, retinol activity equivalent (RAE). Satu μg RAE setara dengan 1 μg retinol, 2 μg β-carotene di dalam minyak,12 μg "dietary" beta-carotene, dan 24 μg 3 “dietary” provitamin-A karotenoid lainnya [15].

Oleh sebab konversi retinol dari provitamin karotenoid oleh tubuh insan secara aktif diatur oleh jumlah retinol yang tersedia di dalam tubuh, konversi berlaku ketat hanya untuk insan yang mengalami defisiensi/kekurangan  vitamin A. Penyerapan provitamin sangat tergantung pada jumlah lipid yang tertelan bersamaan dengan provitamin tersebut; lipid meningkatkan serapan dari provitamin. [16].

Kesimpulan yang sanggup ditarik dari penelitian terbaru, adalah, bahwa buah-buahan dan sayuran tidak  begitu berkhasiat untuk mendapatkan vitamin A, menyerupai yang diperkirakan sebelumnya, dengan kata lain, IU yang dilaporkan terkandung pada masakan ini bernilai jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah dari IU yang terkandung di dalam minyak yang larut dalam lemak dan (sampai batas tertentu) suplemen . Hal ini penting untuk vegetarian, dimana rabun senja lazim terjadi pada negara-negara yang sedikit menyediakan masakan atau dagin yang diperkaya dengan vitamin A .

Contoh dari pola makan seorang vegetarian selama satu hari yang menyediakan vitamin A yang cukup telah diterbitkan oleh Food and Nutrition Board (halaman 120 [15]). Di sisi lain, nilai teladan untuk retinol atau persamaannya yang disediakan oleh National Academy of Sciences telah menurun. RDA (untuk pria) pada tahun 1968 ialah 5000 IU (1500 mg retinol). Pada tahun 1974, RDA ditetapkan sebesar 1000 RE (1000 ug retinol), sedangkan satt ini Dietary Reference Intake sebesar 900 RAE (900 mg atau 3000 IU retinol). Nilai itu setara dengan 1.800 mg suplemen β-karoten (3000 IU) atau 10800 ug β-karoten di dalam masakan (18000 IU).

3. Asupan Vitamin A Harian yang Disarankan Berdasarkan Dietary Reference Intake : [17]

Umur
RDA
Adequate intakes (AI*)
μg/hari
Ambang batas
μg/day
bayi
0–6 bulan
7–12 bulan

400
500

600
600
Anak-anak
1–3 tahun
4–8 tahun

300
400

600
900
Pria
9–13 tahun
14–18 tahun
19 – >70 tahun

600
900
900

1700
2800
3000
Wanita
9–13 tahun
14–18 tahun
19 – >70 tahun

600
700
700

1700
2800
3000
Wanita Hamil
<19 tahun
19 – >50 tahun

750
770

2800
3000
Masa Menyusui
<19 tahun
19 – >50 tahun

1200
1300

2800
3000


(Ambang batas pada tabel di atas ialah untuk retinol sintetis dan alami berbentuk ester dari vitamin A. bentuk karoten yang bersumber dari masakan tidak beracun. [18] [19])

Menurut Institute of Medicine of the National Academies, "RDA ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dari hampir semua (97-98%) individu dalam suatu kelompok. Untuk bayi sehat yang disusui, nilai AI ialah asupan rata-rata. Sedangkan AI untuk kelompok lainnya diyakini sanggup menutupi kebutuhan semua individu dalam kelompok, namun kurangnya data mencegah untuk sanggup meyakinkan jumlah persentase individu yang tercakup oleh asupan ini. "[20]

4. Makanan Sumber-Sumber Vitamin A

Vitamin A ditemukan secara alami pada banyak sekali jenis masakan :
  • minyak hati ikan cod (30000 μg)
  • hati (kalkun) (8058 μg)
  • hati (sapi, ikan) (6500 μg 722%)
  • hati (chicken) (3296 μg)
  • dandelion (5588 IU 112%)[21]
  • wortel (835 μg 93%)
  • daun brokoli (800 μg 89%) – menurut database dari USDA database bunga brokoli mengandung lebih sedikit vitamin A.[22]
  • ubi jalar (709 μg 79%)
  • mentega (684 μg 76%)
  • kubis (681 μg 76%)
  • bayam (469 μg 52%)
  • labu (400 μg 41%)
  • daun collard (333 μg 37%)
  • keju cheddar (265 μg 29%)
  • melon (169 μg 19%)
  • telur (140 μg 16%)
  • aprikot (96 μg 11%)
  • pepaya (55 μg 6%)
  • mangga (38 μg 4%)
  • kacang (38 μg 4%)
  • brokoli (31 μg 3%)
  • susu (28 μg 3%)
  • tomat
  • rumput laut
Catatan: Data yang diambil dari basis data USDA yang berada di dalam kurung ialah retinol activity equivalences (Raes) dan persentase RDA pada laki-laki dewasa, per 100 gram dari materi masakan (rata-rata). Konversi karoten ke retinol bervariasi bagi tiap individu dan ketersediaan karoten secara alami pada masakan bervariasi. [23][24]

5. Manfaat Vitamin A

5.1. Fungsi Metabolik vitamin A

Vitamin A mempunyai banyak fungsi dan peranan bagi tubuh, beliau antaranya ialah :

a. Penglihatan
b. Transkripsi gen
c. Perkembangan dan reproduksi embrionik
d. Metabolisme tulang
e. Haematopoiesis
f. Aktivitas antioksidan

5.2. Peran Vitamin A untuk Penglihatan

Peran vitamin A untuk penglihatan sangat berafiliasi dengan bentuk dari retinol. Pada mata, 11-cis retinal melekat pada protein yang disebut “opsin” untuk kemudian membentuk rhodopsin pada batang mata dan iodopsin (cones) pada residu lysine yang ada di mata. Pada dikala cahaya mengenai mata, 11-cis retinal terisomerasi menjadi bentuk “–trans”. Retinal yang berbentuk “–trans” ini kemudian terpisah dari opsin melalui serangkaian tahapan yang disebut photo-bleaching. Proses isomerasi ini menginduksi sinyal syaraf di sepanjang syaraf penglihatan menuju sentra penglihatan yang ada di otak. Setelah terpisah dengan opsin, retinal yang berbentuk “–trans” tadi kemudian di “daur ulang” kembali menjadi bentuk 11-cis retinal oleh serangkaian reaksi enzimatik. Beberapa bentuk retinal “–trans” sanggup dikonversi menjadi bentuk retinol “–trans” dan ditransfer memakai interphotoreceptor retinol-binding protein (IRBP) menuju ke sel epitel pigmen. Proses eseterifikasi lebih lanjut menjadi ester retinil “-trans” memungkinkan penyimpanan retinol “-trans” di dalam sel epitel pigmen sanggup dipakai kembali ketika dibutuhkan. [26] Tahap terakhir ialah konversi dari 11-cis retinal akan menempel/terikat kembali pada opsin untuk kembali membentuk rhosdopsin (visual purple) pada retina. Rhodopsin diharapkan untuk sanggup melihat pada intensitas cahaya rendah dan pada dikala malam. Kuhne, memperlihatkan bahwa, regenerasi dari rhodopsin hanya terjadi pada dikala retina melekat pada retinal pigmented epithelial (RPE). [25] Dari proses yang sudah dijabarkan, sanggup diambil kesimpulan bahwa, kekurangan vitamin A akan menghambat pembentukan rhodopsin dan sanggup menimbulkan salah satu tanda-tanda penyakit berupa rabun senja / rabun ayam. [27]

5.3. Peran Vitamin A untuk Transkripsi Gen

Vitamin A di dalam bentuk asam retinoat, memainkan tugas penting dalam transkripsi gen. Setelah retinol telah diambil oleh sel, retinol tersebut sanggup dioksidasi menjadi retina (retinaldehid) oleh enzim retinol dehydrogenase dan kemudian retinaldehid sanggup dioksidasi menjadi asam retinoat oleh enzim retinaldehid dehydrogenase. [28] Konversi retinaldehid menjadi asam retinoat merupakan langkah yang irreversibel, hal ini berarti bahwa produksi asam retinoat diatur secara ketat, sebab sehubungan dengan aktivitasnya sebagai ligan untuk reseptor inti sel. [26] Bentuk fisiologis dari asam retinoat (asam -trans-retinoat) mengatur transkripsi gen dengan mengikat reseptor inti sel yang dikenal sebagai reseptor asam retinoat (RAR) yang terikat pada DNA sebagai heterodimer dengan retinoid "X" reseptor (RXR).  RAR dan RXR harus di dimerisasi sebelum sanggup terikat pada DNA. RAR akan membentuk sebuah heterodimer dengan RXR (RAR-RXR), tetapi tidak gampang membentuk suatu homodimer (RAR-RAR). RXR, di sisi lain, sanggup membentuk suatu homodimer (RXR-RXR) dan akan membentuk heterodimer dengan banyak reseptor inti sel lainnya, termasuk hormon tiroid reseptor (RXR-TR); Vitamin D3 reseptor (RXR-VDR); peroxisome proliferator-activated reseptor (PPAR-RXR) dan liver "X" reseptor (RXR-LXR). [29] Heterodimer RAR - RXR mengenali elemen respon asam retinoat (Rares) pada DNA sedangkan homodimer RXR - RXR mengenali retinoid " X " elemen respon ( RXREs ) pada DNA. Meskipun beberapa Rares yang bersahabat dengan gen sasaran telah memperlihatkan kemampuan untuk mengontrol proses fisiologis, [28] namun hal ini belum diketahui pada RXREs. Heterodimer dari RXR dengan reseptor inti sel selain RAR (yaitu TR , VDR , PPAR , LXR) terikat pada banyak sekali elemen respon yang berbeda dari DNA untuk mengontrol proses yang tidak diregulasi oleh vitamin A. [26] Setelah penempelan asam retinoat pada komponen RAR dari RAR - RXR heterodimer, reseptor mengalami perubahan konformasi yang mengakibatkan co- represor terpisah dari reseptor. Co-activators kemudian sanggup mengikat reseptor kompleks, yang sanggup membantu untuk melonggarkan struktur kromatin dari histon atau sanggup berinteraksi dengan proses transkripsi. [29] Hal ini sanggup meningkatkan (atau menurunkan) mulut gen sasaran , termasuk gen Hox serta gen yang mengkode reseptor itu sendiri (misalnya, RAR-beta pada mamalia). [26] 

5.4. Dermatologi 

Vitamin A, khususnya asam retinoat, mempunyai kemampuan untuk menjaga kesehatan kulit normal dengan mengaktifkan gen dan mendiferensiasi keratinosit (sel kulit yang belum matang) menjadi sel epidermis dewasa.[30] Mekanisme niscaya mengenai latar belakang digunakannya terapi retinoid sebagai biro farmakologis dalam pengobatan penyakit dermatologis masih terus diteliti. Pada pengobatan untuk jerawat, obat retinoid paling yang paling diresepkan ialah 13-cis retinoic acid (isotretinoin). Obat ini mengurangi ukuran dan sekresi kelenjar sebaceous. Isotretinoin akan mengurangi jumlah basil di dalam saluran dan permukaan kulit. Hal ini terjadi sebagai tanggapan dari pengurangan sebum (sumber nutrisi bagi bakteri). Isotretinoin mengurangi peradangan melalui penghambatan respon chemotactic dari monosit dan neutrofil.[26] Isotretinoin juga telah diketahui sanggup memulai “renovasi” kelenjar sebasea; hal ini memicu perubahan pada mulut gen yang secara selektif menginduksi apoptosis. [31] Isotretinoin merupakan teratogen (agen yang mempunyai potensi membuat kelainan perkembangan fisiologis) dengan sejumlah potensi imbas samping, oleh sebab itu penggunaannya membutuhkan pengawasan medis.

5.5. Retina / Retinol vs Asam Retinoat 

Tikus yang kehilangan/kekurangan vitamin A sanggup mempunyai kondisi kesehatan yang baik dengan suplementasi asam retinoat. Hal ini membalikkan imbas terhambatnya pertumbuhan tanggapan kekurangan vitamin A, serta tahap awal xerophthalmia. Namun, tikus tersebut memperlihatkan infertilitas (baik laki-laki dan perempuan) dan terus menerus mengalami degenerasi pada retina. Hal ini memperlihatkan bahwa fungsi-fungsi ini membutuhkan retina atau retinol, yang bersifat intraconvertable dimana hal tersebut tidak sanggup dipulihkan kembali hanya dengan memakai asam retinoat yang teroksidasi. Kebutuhan retinol untuk menyembuhkan reproduksi pada tikus yang kekurangan vitamin A sanggup diketahui sebab vitamin A dibutuhkan sebagai persyaratan untuk sintesis lokal asam retinoat dari retinol pada testis dan embrio [32] [33].

6. Defisiensi / Kekurangan Vitamin A

Kekurangan vitamin A diperkirakan terjadi pada sekitar sepertiga dari anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. [34] Hal ini diperkirakan telah merenggut kehidupan dari 670.000 balita per tahun. [35] Sekitar 250.000-500.000 anak di negara berkembang menjadi buta setiap tahunnya sebab kekurangan vitamin A, dengan prevalensi tertinggi terjadi di Asia Tenggara dan Afrika. [36]

Kekurangan vitamin A sanggup terjadi baik secara primer maupun sekunder. Kekurangan vitamin A primer terjadi di antara anak-anak dan orang cukup umur yang tidak mengkonsumsi asupan karotenoid provitamin A pada jumlah yang cukup dari buah-buahan dan sayuran serta vitamin A dari binatang dan produk susu. Penyapihan ASI yang terlalu awal juga sanggup meningkatkan risiko kekurangan vitamin A.

Defisiensi vitamin A sekunder dikaitkan dengan malabsorpsi kronis lipid/lemak, gangguan metabolism empedu, dan paparan kronis terhadapa oksidan (radikal bebas), menyerupai asap rokok dan kecanduan alkohol kronis. Vitamin A ialah vitamin larut lemak dan tergantung pada solubilitas miselar untuk terdispersi ke dalam usus kecil, oleh sebab itu acara vitamin A akan sangat rendah kalau melaksanakan diet rendah lemak. Defisiensi zinc juga sanggup mengganggu penyerapan, transportasi, dan metabolisme vitamin A sebab senyawa ini dipakai pada sintesis protein pembawa vitamin A dan sebagai kofaktor proses konversi retinol menuju retina. Pada populasi yang kekurangan gizi, asupan vitamin A dan zinc yang rendah meningkatkan tingkat keparahan defisiensi vitamin A sehingga mengarah pada gejala-gejala fisiologis tanggapan defisensi. [26] Sebuah studi di Burkina Faso memperlihatkan penurunan morbiditas malaria yang signifikan dengan memperlihatkan anak-anak suplementasi adonan antara vitamin A dan zinc. [37]

Sehubungan dengan fungsi yang unik dari retina sebagai kromofor visual, salah satu manifestasi awal dan spesifik dari defisiensi vitamin A ialah gangguan penglihatan, terutama pada intensitas cahaya yang rendah (rabun senja) . Defisiensi yang terjadi secara terus menerus menimbulkan serangkaian perubahan, yang paling dahsyat terjadi pada mata. Beberapa perubahan okular lainnya disebut xerophthalmia. Hal yang terjadi pertama kali ialah terjadi kekeringan pada konjungtiva (xerosis), ketika lacrimalis normal dan mukus yang mensekresi epitel digantikan oleh epitel yang terkeratinasi. Hal ini diikuti dengan pembentukan serpihan keratin di dalam plak kecil yang berwarna buram (bintik Bitot) dan, pada akhirnya, terjadi abrasi pada permukaan kornea yang garang dengan terjadinya pelunakan dan kerusakan kornea (keratomalacia), sehingga mengakibatkan kebutaan total. [38] Perubahan lainnya berupa; gangguan imunitas (peningkatan risiko jerawat telinga, jerawat saluran kemih, penyakit meningokokus), hiperkeratosis (benjolan putih pada folikel rambut), keratosis pilaris dan metaplasia skuamosa pada epitel yang melapisi saluran pernapasan atas dan kandung kemih yang menjelma epitel yang terkeratinasi. Pada hubungannya dengan bidang kedokteran gigi, kekurangan vitamin A sanggup mengakibatkan enamel hipoplasia.

Asupan yang cukup dan tidak berlebihan dari vitamin A, sangat penting bagi perempuan hamil dan menyusui untuk perkembangan janin yang normal dan kualitas ASI yang baik. Kekurangan/defisiensi vitamin A tidak sanggup dikompensasi/digantikan oleh suplementasi sesudah melahirkan. [39][40] Kelebihan vitamin A, tanggapan suplementasi vitamin A takaran tinggi, sanggup mengakibatkan cacat lahir, sehingga dihentikan melebihi nilai harian yang direkomendasikan. [28]

Gangguan metabolisme vitamin A yang terjadi tanggapan dari mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilan, ditandai oleh teratogenik (perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang mengakibatkan kerusakan pada embrio) yang hampir sama dengan ibu hamil yang mengalami defisiensi vitamin A. [41]

7. Suplementasi Vitamin A

Upaya global yang dilakukan untuk mendukung pemerintah nasional dalam mengatasi kekurangan vitamin A dipimpin oleh Global Alliance for Vitamin A (GAVA), yang merupakan sebuah kerjasama informal antara A2Z, Canadian International Development Agency, Helen Keller International, the Micronutrient Initiative, UNICEF, USAID, and the World Bank. Kegiatan dari GAVA dikoordinasikan oleh forum Micronutrient Initiative.

Pada dikala penggunaan beberapa taktik untuk mendapatkan asupan vitamin A melalui kombinasi ASI dan asupan makanan, penggunaan suplemen takaran tinggi secara oral tetap menjadi taktik utama untuk meminimalkan kekurangan vitamin A. [42] Sebuah meta-analisis dari 43 penelitian memperlihatkan bahwa, suplementasi vitamin A bagi anak-anak di belum dewasa lima tahun yang beresiko mengalami defisiensi vitamin A sanggup mengurangi persentase janjkematian hingga 24%. [43] Sekitar 75% dari vitamin A yang dibutuhkan untuk kegiatan suplementasi di negara-negara berkembang disuplai oleh Micronutrient Initiative dengan dukungan dari Canadian International Development Agency. [44] Pendekatan berupa fortifikasi pangan menjadi semakin meningkat, [45] tetapi tingkat cakupannya belum sanggup dipastikan. [42]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa suplementasi vitamin A telah mencegah 1,25 juta janjkematian tanggapan kekurangan vitamin A di 40 negara semenjak tahun 1998. [46] Pada tahun 2008 diperkirakan bahwa investasi tahunan sebesar US $ 60 juta pada kombinasi vitamin A dan suplementasi zinc akan menghasilkan laba lebih dari US $ 1 miliar per tahun, dimana setiap dolar yang dihabiskan menghasilkan laba lebih dari US $ 17. [47] Upaya ini diberi peringkat oleh Konsensus Kopenhagen pada tahun 2008 sebagai pengembangan investasi terbaik di dunia. [47]

8. Toksisitas / Hypervitaminosis A (Kelebihan Vitamin A)

Oleh sebab vitamin A larut dalam lemak, membuang segala kelebihan vitamin A yang terjadi tanggapan diet, memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan vitamin B dan vitamin C yang larut dalam air. Hal ini sanggup mengakibatkan tingkat toksiksitas dari vitamin A menumpuk.

Secara umum, toksisitas akut terjadi pada takaran 25.000 IU (International Units) / kg berat badan, dengan toksisitas kronis terjadi pada 4.000 IU / kg berat tubuh setiap harinya selama 6-15 bulan. [48] Namun, toksisitas pada hati sanggup terjadi pada tingkat paling rendah sebesar 15.000 IU per hari hingga 1,4 juta IU per hari, dengan rata-rata takaran toksik harian 120.000 IU per hari, terutama dengan konsumsi alkohol yang berlebihan. Pada orang dengan penyakit gagal ginjal, nilai 4000 IU sanggup mengakibatkan kerusakan besar. Selain itu, asupan alkohol yang berlebihan sanggup meningkatkan toksisitas. Anak-anak sanggup mengalami keracunan pada 1.500 IU / kg berat badan. [49]

Konsumsi vitamin A yang berlebihan sanggup mengakibatkan rasa mual (nausea), iritabilitas, anoreksia (nafsu makan berkurang), muntah, penglihatan kabur, sakit kepala, kerontokan rambut, nyeri otot dan perut, mengantuk, dan perubahan status mental. Pada masalah seperti; rambut rontok, kulit kering, pengeringan selaput lendir, demam, insomnia, kelelahan, penurunan berat badan, patah tulang, anemia, dan diare, sanggup dijadikan sebagai bukti dari gejala-gejala yang berafiliasi dengan tingkat toksisitas yang tidak begitu serius.[50] beberapa gejala-gejala ini juga umum terjadi tanggapan pengobatan jerawat dengan memakai Isotretinoin. Dosis tinggi yang kronis dari vitamin A dan retinoid hasil sintesis menyerupai 13-cis asam retinoat, sanggup menimbulkan sindrom pseudotumor cerebri. [51] Gejala-gejala yang terjadi tanggapan sindrom ini ialah sakit kepala, kaburnya penglihatan dan kebingungan yang terkait dengan peningkatan tekanan intraserebral. Gejala-gejala tersebut sanggup diatasi dengan menghentikan asupan zat dari senyawa yang terkait. [52]

Asupan kronis sebesar 1500 RAE dari turunan vitamin A sanggup berafiliasi dengan osteoporosis dan patah tulang pinggul, sebab sanggup menekan proses pembentukan tulang sekaligus merangsang kerusakan tulang. [53].

Asupan vitamin A dalam takaran tinggi telah dikaitkan dengan patah tulang yang terjadi secara impulsif pada hewan. Penelitian mengenai kultur sel telah memperlihatkan relasi antara peningkatan resorpsi tulang dan penurunan pembentukan tulang dengan asupan vitamin A yang tinggi. Interaksi ini sanggup terjadi sebab vitamin A dan D sanggup bersaing sebagai reseptor yang sama dan kemudian berinteraksi dengan hormon paratiroid, yang mengatur kalsium. [49] Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Forsmo et al., memperlihatkan relasi antara kepadatan mineral tulang yang rendah dengan asupan vitamin A yang terlalu tinggi. [54]

Efek racun dari vitamin A telah terbukti secara signifikan mensugesti perkembangan janin. Dosis terapi yang dipakai untuk pengobatan jerawat telah terbukti mengganggu acara sel saraf cephalic. Janin sangat sensitif terhadap keracunan vitamin A selama periode organogenesis. [26] Keracunan ini hanya terjadi tanggapan preformed / turunan (retinoid) vitamin A (misalnya yang bersumber dari hati). Bentuk karotenoid (seperti beta-karoten menyerupai yang ditemukan dalam wortel), tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, kecuali dengan suplemen dan kecanduan alkohol kronis. Namun asupan masakan yang mengandung beta-karoten berlebihan sanggup mengakibatkan carotenodermia, yang mengakibatkan perubahan warna oranye-kuning pada kulit. [55][56][57]

Perokok dan pecandu alkohol kronis telah diamati mempunyai peningkatan risiko janjkematian tanggapan kanker paru-paru, kanker kerongkongan, kanker gastrointestinal dan kanker usus besar. [41] Melalui sebuah penelitian, cedera pada hepatik (hati) telah ditemukan pada insan dan hewan, di mana konsumsi alkohol dipasangkan dengan takaran tinggi vitamin A dan suplemen beta-karoten.

Para peneliti telah berhasil membuat bentuk vitamin A yang larut dalam air, yang dipercaya oleh mereka sanggup mengurangi potensi toksisitas. [58] Namun, sebuah studi pada tahun 2003 menemukan bahwa vitamin A yang larut dalam air diperkirakan 10 kali lebih beracun dibandingkan dengan vitamin A yang larut dalam lemak. [59] Sebuah penelitian pada tahun 2006 menemukan bahwa, anak-anak yang diberi vitamin A dan D yang larut dalam air, menderita asma dua kali lebih banyak kalau dibandingkan kelompok kontrol diberi vitamin A yang larut dalam lemak [60].

Pada beberapa penelitian, penggunaan suplemen vitamin A telah dikaitkan dengan peningkatan tingkat kematian, [61] tetapi hanya ada sedikit bukti untuk memperlihatkan hal ini [62].

9. Penggunaan Vitamin A dan Turunannya di Bidang Medis

Retinil palmitat telah dipakai di dalam krim kulit, di mana senyawa tersebut dipecah menjadi retinol dan akal-akalan dimetabolisme menjadi asam retinoat, yang mempunyai acara biologis yang kuat, menyerupai yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Retinoid (misalnya, 13-cis-asam retinoat) membentuk suatu kelas senyawa kimia yang secara kimiawi berkaitan dengan asam retinoat, dan dipakai dalam pengobatan untuk memodulasi fungsi gen. Seperti asam retinoat, senyawa terkait ini tidak mempunyai acara vitamin A secara keseluruhan, tetapi mempunyai imbas yang berpengaruh pada mulut gen dan diferensiasi sel epitel [63].

Ilmu farmasi memakai mega takaran turunan asam retinoat alami yang dipakai untuk pengobatan kanker, HIV, dan tujuan dermatologis [64]. Pada takaran yang tinggi, imbas samping yang dihasilkan menyerupai dengan keracunan vitamin A (hypervitaminosis A). Efek samping parah yang berafiliasi dengan keracunan vitamin A, dan penggunaan pada kisaran optimal yang terbatas menjadi kendala utama dalam menyebarkan turunan vitamin A untuk dipakai sebagai terapi.

Referensi :
  1. Fennema, Owen (2008). Fennema's Food Chemistry. CRC Press taylor &Francis Group. pp. 454–455. ISBN 9780849392726.
  2. Tanumihardjo, S.A. (2011). "Vitamin A: biomarkers of nutrition for development". American Journal of Clinical Nutrition 94 (2): 658S–665S. doi: 10.3945/ajcn.110.005777.
  3. Wolf, G. (2001). "The discovery of the visual function of vitamin A". Journal of Nutrition 131 (6): 1647–1650.
  4. "Vitamin A".
  5. News Medical. "What is Vitamin A?". Retrieved 1 May 2012.
  6. Tanumihardjo, S.A (2011). "Vitamin A: biomarkers of nutrition for development". American Journal of Clinical Nutrition 94 (2): 658S–665S. doi: 10.3945/ajcn.110.005777.
  7. Carolyn Berdanier. 1997. Advanced Nutrition Micronutrients. CRC Press, ISBN 0849326648, pp. 22–39
  8. Meschino Health. "Comprehensive Guide to Vitamin A". Retrieved 1 May 2012.
  9. deMan, John (1999). Principles of Food chemistry. Maryland: Aspen Publication Inc. p. 358. ISBN 083421234x
  10. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A.". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  11. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A.". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  12. Wolf, George (2001-04-19). "Discovery of Vitamin A". Encyclopedia of Life Sciences. doi: 10.1038/npg.els.0003419. ISBN 0-470-01617-5.
  13. Semba, Richard (2012). "On the 'Discovery' of Vitamin A". Annals of Nutrition and Metabolism 61 (3): 192–198. doi: 10.1159/000343124.
  14. Composition of Foods Raw, Processed, Prepared USDA National Nutrient Database for Standard Reference, Release 20 USDA, Feb. 2008
  15. a b Chapter 4, Vitamin A of Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic, Boron, Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon, Vanadium, and Zinc, Food and Nutrition Board of the Institute of Medicine, 2001
  16. Solomons, NW; Orozco, M (2003). "Alleviation of vitamin A deficiency with palm fruit and its products". Asia Pacific journal of clinical nutrition 12 (3): 373–84. PMID 14506004.
  17. Dietary Reference Intakes: Vitamins.
  18. "Sources of vitamin A". Retrieved 2007-08-27.
  19. "Linus Pauling Institute at Oregon State University: Vitamin A Safety". Retrieved 2007-09-02.
  20. Food and Nutrition Board. Institute of Medicine. National Academies. (2001) "Dietary Reference Intakes"
  21. Dandelion greens, raw. NutritionData.Self.com.
  22. The RAE value in the USDA data for broccoli leaves is similar to the IU value for broccoli florets, which implies that the leaves have about 20 times as much beta-carotene.
  23. Borel P, Drai J, Faure H, et al. (2005). "Recent knowledge about intestinal absorption and cleavage of carotenoids". Ann. Biol. Clin. (Paris) (in French) 63 (2): 165–77. PMID 15771974.
  24. Tang G, Qin J, Dolnikowski GG, Russell RM, Grusak MA (2005). "Spinach or carrots can supply significant amounts of vitamin A as assessed by feeding with intrinsically deuterated vegetables". Am. J. Clin. Nutr. 82 (4): 821–8. PMID 16210712.
  25. a b Wolf, G. (2001). "The discovery of the visual function of vitamin A". The Journal of nutrition 131 (6): 1647–1650. PMID 11385047.
  26. a b c d e f g Combs, Gerald F. (2008). The Vitamins: Fundamental Aspects in Nutrition and Health (3rd ed.). Burlington: Elsevier Academic Press. ISBN 978-0-12-183493-7.
  27. McGuire, Michelle; Beerman, Kathy A. (2007). Nutritional sciences: from fundamentals to food. Belmont, CA: Thomson/Wadsworth. ISBN 0-534-53717-0.
  28. a b c Duester, G (2008). "Retinoic Acid Synthesis and Signaling during Early Organogenesis". Cell 134 (6): 921–31. doi: 10.1016/j.cell.2008.09.002. PMC 2632951. PMID 18805086.
  29. a b Stipanuk, Martha H. (2006). Biochemical, Physiological and Molecular Aspects of Human Nutrition (2nd ed.). Philadelphia: Saunders. ISBN 9781416002093.
  30. "Regulation of terminal differentiation of cultured human keratinocytes by vitamin A". Cell 25 (3): 617–25. 1981. doi: 10.1016/0092-8674(81)90169-0. PMID 6169442.
  31. Nelson, A. M.; et al. (2008). "Neutrophil gelatinase–associated lipocalin mediates 13-cis retinoic acid–induced apoptosis of human sebaceous gland cells". Journal of Clinical Investigation 118 (4): 1468–1478. doi: 10.1172/JCI33869. PMC 2262030. PMID 18317594.
  32. Moore, T.; Holmes, P. D. (1971). "The production of experimental vitamin A deficiency in rats and mice". Laboratory Animals 5 (2): 239–50. doi: 10.1258/002367771781006492. PMID 5126333.
  33. VanPelt, H.M.M.; DeRooij, D.G. (1991). "Spermatogenesis in retinol-deficient rats maintained on retinoic acid". Endocrinology 128 (2): 697–704. doi: 10.1530/jrf.0.0940327. PMID 1593535.
  34. World Health Organization, Global prevalence of vitamin A deficiency in populations at risk 1995–2005, WHO global database on vitamin A deficiency.
  35. Black, RE; Allen, LH; Bhutta, ZA; Caulfield, LE; De Onis, M; Ezzati, M; Mathers, C; Rivera, J et al. (2008). "Maternal and child undernutrition: global and regional exposures and health consequences". Lancet 371 (9608): 243–60. doi: 10.1016/S0140-6736(07)61690-0. PMID 18207566
  36. "Office of Dietary Supplements. Vitamin A". National Institute of Health. Retrieved 2008-04-08.
  37. Zeba AN, Sorgho H, Rouamba N, et al. (2008). "Major reduction of malaria morbidity with combined vitamin A and zinc supplementation in young children in Burkina Faso: a randomized double blind trial". Nutr J 7: 7. doi: 10.1186/1475-2891-7-7. PMC 2254644. PMID 18237394.
  38. Roncone DP (2006). "Xerophthalmia secondary to alcohol-induced malnutrition". Optometry (St. Louis, Mo.) 77 (3): 124–33. doi:10.1016/j.optm.2006.01.005. PMID 16513513.
  39. Strobel M, Tinz J, Biesalski HK (2007). "The importance of beta-carotene as a source of vitamin A with special regard to pregnant and breastfeeding women". Eur J Nutr. 46 Suppl 1: I1–20. doi: 10.1007/s00394-007-1001-z. PMID 17665093.
  40. Schulz C, Engel U, Kreienberg R, Biesalski HK (2007). "Vitamin A and beta-carotene supply of women with gemini or short birth intervals: a pilot study". Eur J Nutr 46 (1): 12–20. doi: 10.1007/s00394-006-0624-9. PMID 17103079.
  41. a b Crabb DW, et al. (2001). "Alcohol and Retinoids". Alcoholism: Clinical and Experimental Research. 25 Suppl 5: 207S–217S. doi: 10.1111/j.1530-0277.2001.tb02398.x.
  42. a b UNICEF, Vitamin A Supplementation: A Decade of Progress, New York, 2007, p.3.
  43. Mayo-Wilson E et al. [1]. Vitamin A supplements for preventing mortality, illness, and blindness in children aged under 5: systematic review and meta-analysis BMJ 2011;343:d5094
  44. Micronutrient Initiative, Annual Report 2009-2010, p. 4.
  45. Golden Rice is an effective source for Vitamin A, American Journal of Clinical Nutrition, June 2009.
  46. "Micronutrient Deficiencies-Vitamin A". World Health Organization. Retrieved 2008-04-09.
  47. a b Copenhagen Consensus 2008, Results, press release, May 30, 2008.
  48. Rosenbloom, Mark. "Toxicity, Vitamin". eMedicine.
  49. a b Penniston, Kristina L.; Tanumihardjo, Sherry A. (2006). "The acute and chronic toxic effects of vitamin A". Am. J. Clin. Nutr. 83 (2): 191–201. PMID 16469975.
  50. Eledrisi, Mohsen S. "Vitamin A Toxicity". eMedicine.
  51. Brazis PW (2004). "Pseudotumor cerebri". Current neurology and neuroscience reports 4 (2): 111–6. doi: 10.1007/s11910-004-0024-6. PMID 14984682.
  52. AJ Giannini, RL Gilliland. The Neurologic, Neurogenic and Neuropsychiatric Disorders Handbook. New Hyde Park, NY. Medical Examination Publishing Co., 1982, ISBN 0-87488-699-6 pp. 182–183.
  53. Whitney, Ellie; Sharon Rady Rolfes (2011). Peggy Williams, ed. Understanding Nutrition (Twelfth ed.). California: Wadsworth:Cengage Learning. ISBN 0-538-73465-5.
  54. Forsmo, Siri; Fjeldbo,Sigurd Kjørstad; Langhammer, Arnulf (2008). "Childhood Cod Liver Oil Consumption and Bone Mineral Density in a Population-based Cohort of Peri- and Postmenopausal Women: The Nord-Trøndelag Health Study". Am. J. Epidemiol. 167 (4): 406–411. doi: 10.1093/aje/kwm320. PMID 18033763.
  55. Sale TA, Stratman E (2004). "Carotenemia associated with green bean ingestion". Pediatr Dermatol 21 (6): 657–9. doi: 10.1111/j.0736-8046.2004.21609.x. PMID 15575851.
  56. Nishimura Y, Ishii N, Sugita Y, Nakajima H (1998). "A case of carotenodermia caused by a diet of the dried seaweed called Nori". J. Dermatol. 25 (10): 685–7. PMID 9830271.
  57. Takita Y, Ichimiya M, Hamamoto Y, Muto M (2006). "A case of carotenemia associated with ingestion of nutrient supplements". J. Dermatol. 33 (2): 132–4. doi: 10.1111/j.1346-8138.2006.00028.x. PMID 16556283.
  58. Science News. Water-soluble vitamin A shows promise.
  59. Myhre AM, Carlsen MH, Bøhn SK, Wold HL, Laake P, Blomhoff R (2003). "Water-miscible, emulsified, and solid forms of retinol supplements are more toxic than oil-based preparations". Am. J. Clin. Nutr. 78 (6): 1152–9. PMID 14668278.
  60. Kull I, Bergström A, Melén E, et al. (2006). "Early-life supplementation of vitamins A and D, in water-soluble form or in peanut oil, and allergic diseases during childhood". J. Allergy Clin. Immunol. 118 (6): 1299–304. doi: 10.1016/j.jaci.2006.08.022. PMID 17157660.
  61. USA Today - News (2011-10-10). "Study flags risk of daily vitamin use among older women". Retrieved 1 May 2012.
  62. Bjelakovic G, Nikolova D, Gluud LL, Simonetti RG, Gluud C (2008). "Antioxidant supplements for prevention of mortality in healthy participants and patients with various diseases.". Cochrane Database of Systematic Reviews (2). doi: 10.1002/14651858.CD007176. PMID 18425980.
  63. American Cancer Society: Retinoid Therapy.
  64. Vivat-Hannah, V; Zusi, FC (2005). "Retinoids as therapeutic agents: today and tomorrow". Mini reviews in medicinal chemistry 5 (8): 755–60. doi: 10.2174/1389557054553820. PMID 16101411.
  65. http://en.wikipedia.org/wiki/File:All-trans-Retinol2.svg
Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Wikipedia (12/10/2013). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.